Translate

Kamis, 23 Januari 2014

SMS Lebaran

Oleh: Sinang Bulawan

Lebaran sudah memasuki hari ketiga. HP saya sudah tidak lagi berbunyi unik seperti tiga hari berturut-turut sebelumnya.Ternyata bunyi SMS lebaran sudah berhenti masuk.

Sudah dua kali saya hapus seluruh memori SMS yang masuk.Masih juga ratusan SMS berikutnya menyusul.Dengan rasa sabar satu demi satu saya buka.Membaca, dan membalasnya. Ada rasa suka, ada rasa ingin tahu apa isinya, dan dari siapa?

Rata-rata hanya ingin menyampaikan pesan selamat lebaran, minta maaf, dan satu dua yang menutup dengan doa-doa.

Jaman sekarang, HP sudah bukan barang mahal lagi.Setiap orang hampir memilikinya.Begitu juga dengan kita semua.Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana dengan HP anda.Apakah juga menerima SMS lebaran? Pasti ada kan ?. Hanya bagi yang bukan muslim saja mungkin yang tidak menerima SMS tersebut. Kalau pun menerima, paling juga SMS nyasar, atau orang yang mengirim belum mengetahui kalau anda bukan beragama Islam.Namun, walau tidak menerima SMS, bisa jadi anda adalah salah satu yang mengirim SMS ke teman-teman yang berlebaran. Saya yakin akan itu. Banyak SMS yang masuk ke HP saya, yang mana pengirimnya memang rekan-rekan sekantor yang non-muslim.

Nah kalau kita menerima SMS lebaran, bagaimana dengan isinya?

Dari ratusan SMS lebaran yang masuk saya perhatikan satu demi satu.Secara iseng dan mereka-reka dapat saya katagorikan macam-macam.Mau tahu?Coba deh baca.Di bawah ini ada beberapa sortiran SMS yang masuk ke HP saya mulai dari yang singkat sampai yang sangat panjang.

"Kriing"
"Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan bathin."

"Kriing"
"Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir & batin.Taqoballahu Minna Wa Minkum."

"Kriing"
"Ass. Ww. Perkenakan kami menghaturkan SELAMAT IDUL FITRI 1 Syawal 1429 H. Taqobbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir dan bathin. Wass.ww."

"Kriing"
"Dalam menyambut Idul Fitri 1429 H ini kami sekeluarga juga minta maaf lahir dan bathin, serta mengucapkan "Minal aidin wal fa'izin" agar kita kembali fitri."



"Kriing"
"Kata telah terucap, prasangka telah terungkap, tiada kata kecuali saling maaf, jalin ukhwah dan kasih saying, raih indahnya kemenagan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin."

"Kriing"
"Titik-titik embun diantara daun jatuh ke bumi laksana hujan!! Dosa tertimbum mohon diampun… Terbentuk khilaf mohon dimaafkan…Sajadah indah nanberseri jadi hiasan di hari nan suci. SMS dating sebagai pengganti diri, tanda ada kebersamaan di hati. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin."

"Kriing"
"Ramadhan telah berakhir, semoga kita dapat menjumpainya kembali di tahun yang akan datang dan menunaikan kembali shaum Ramadhan. Selamat Iedhul Fithri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum, semoga amal dan ibadah kita diterima Allah. "Ya Allah muliakanlah Saudaraku ini, bahagiakanlah keluarganya, berkahilah rezeki dan kesehatannya, kuatkan imannya, tinggikanlah derajadnya, kabulkanlah doanya, serta eratkanlah persaaudaraan kami. Amin."

"Kriing"
"Perkataan yang indah adalah "LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADDARRASULULLAH". Lagu yang merdu adalah "ADZAN".Media yang terbaik adalah "AL-QURAN".Senam yang sehat adalah "SHALAT".Diet yang sempurna adalah "PUASA".Kebersihan yang menyegarkan adalah "WUDHU".Perjalanan yang indah adalah "HAJI".Khayalan yang baik adalah ingat "DOSA-TAUBAT & KEMATIAN".
"Selamat tinggal bulan nan suci dan penuh kemuliaan. Selamat datang hari nan fitri. Mohon maaf lahir dan batin".

"Kriing"
"Ini sekedar catatan kecil dari "orang kecil". Petik hikmahnya dan ambil indahnya, selebihnya abaikan saja.

Yang singkat itu "WAKTU".
Yang dekat itu "MATI"
Yang besar itu "NAFSU"
Yang berat itu "AMANAH".
Yang sulit itu "IKHLAS".
Yang mudah itu "BERBUAT DOSA".
Yang abadi itu "AMAL KEBAJIKAN".
Yang akan diinvestasikan itu "APA YANG KITA KERJAKAN".
Yang akan diaudit itu "APA YANG KITA MILIKI".
Tapi yang indah itu jika kita mau dan bisa "SALING MEMAAFKAN".
"Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita perbaiki kesalahan dengan shalat dan sabar."

Itu baru sembilan SMS yang masuk, dan saya anggap bisa mewakili dari ratusan yang ada.Ada yang memang singkat dan sangat formal.Ada yang sangat sopan dan sangat kental nuansa Islamnya.Ada yang berpantun.Ada juga yang bergaya penyair.Jangan salahkan bila ada bergaya penceramah.Dan, berterima kasihlah bila ada yang sampai berdoa sangat panjang, yang semuanya ditujukan untuk diri kita. Kalau membaca SMS seperti ini , sambil membaca tidak lepas-lepasnya mulut saya berucap… amin…amin.

Saya sungguh terkesan, bahkan sempat ada beberapa SMS masuk membuat mata ini berkaca-kaca.Betapa sucinya hati si pengirim dengan sempat-sempatnya mendoakan diri saya ini.Padahal SMS yang saya kirim tidaklah seperti itu.Polos-polos saja, rasanya seperti tidak berjiwa.Saya akui itu.

Tapi setelah terharu membaca SMS yang masuk tadi, keharuan berangsur-angsur mulai berkurang dengan masuknya SMS serupa namun dengan pengirim yang berbeda. Dua SMS yang sama, diikuti tiga, empat, lima , dan seterusnya. Amin…amin…mulut terus berucap, otak saya berputar-putar berpikir.Nah lho bagaimana ini. Kok bisa sama ya? Siapa inisiatornya, dan siapa yang followernya?
Alamak.Bukan hanya kaset, CD, VCD saja yang dibajak.SMS lebaran pun dibajak juga.Amit-amit dah.Hancur…hancur.

Kalau sudah begini semuanya kita kembalikan ke teknologi, karena pesan pendek atau SMS merupakan salah satu fitur yang ada dalam HP yang kita miliki. Ini untuk memudahkan kita mengirim pesan-pesan dengan tujuan menghemat biaya, atau dengan tujuan lain yang sifatnya rahasia atau memang dalam kondisi si pengirim atau si penerima tidak siap atau tidak ada waktu untuk bercakap-cakap. Tetapi dengan perkembangan teknologi, menu-menu di dalam fitur SMS tersebut setiap saat dibuat semakin komplit dan canggih, sehingga SMS yang masuk pun dapat diotak-atik kemudian dikirim lagi ke alamat yang berbeda, dengan secara otomatis menghapus inisial si pengirim awalnya. Ini yang dinamakan fully modified forward message. Kalau HP kita tidak memiliki system ini bisa juga diakali dengan cara copy-paste seperti email.

Jadi itulah penyebabnya SMS masuk ke HP saya yang awalnya membuat haru, lama-lama rasanya menjadi saru.Malah ujung-ujungnya membuat saya senyum-senyum.Tapi sudahlah.Yang penting si pengirim sudah memiliki niat baik, berupaya mempererat tali silaturrahim, dan berusaha menghapus kesalahan dengan permohonan maaf yang mendalam.Dan yang terpenting dia sudah memasukkan saya sebagai salah satu tujuan untuk menerima pesan. Sungguh ini merupakan karunia dari atas sana , kalau saya dianggap orang penting yang harus menerima pesan.

Bayangkan, baru kurang lebih sepuluh tahun.Teknologi telepon selular sudah membuat lompatan besar dalam bidang telekomunikasi.Kalau dulu mau lebaran kita semua dibuat ekstra sibuk. Ke kantor pos beli kartu lebaran banyak-banyak. Mengisi dan menanda-tangani, memasukkan dalam amplop, menempel perangko, kemudian dikirim.Semuanya dengan biaya.

Kartu lebaran yang dijual sudah tersedia dengan banyak pilihan gambar, dan kata-kata pesan di bagian dalamnya.Mulai dari yang formal sampai yang puitis.Kalau kurang sreg, kita kadang-kadang memesan sendiri dengan isi pesan sesuai keinginan kita.Semuanya masih tradisionil.Butuh waktu, tenaga, dan uang.Keterbatasan teknologi ini kemudian mulai berkurang dengan adanya telegram indah atau telegram lebaran.Kemudian meningkat lagi adanya teknologi email. Dan alhamdulillah sekarang muncul cara ber-SMS ria. Tinggal membuat draft isi SMS, kemudian klik semua nama atau no. HP di memori, dan diakhiri dengan menekan menu "SEND". SMS mulai mengalir secara otomatis.

"Tieng", message has been send".
"Tieng", message has been send".
"Tieng", message has been send".
"Tieng", message has been send".
"Tieng", message has been send".

Cara itu yang saya lakukan. Tiga ratus SMS sekaligus dikirim dalam satu tekanan "SEND", kemudian lampu HP berkedip-kedip dengan sinyal kalau SMS saya sudah terkirim ke salah satu nomor tujuan. Kemudian diikuti seperti itu lagi pada nomor-nomor tujuan lainnya.Rasanya maknyus benar.Pesan dikirim dengan cepat, singkat, dan murah sambil sayanya bisa nonton TV, makan, minum, atau pipis.Ya enggak.Sudahlah, andapun yang membaca tulisan ini juga gitu khan?

Yang lucu karena menganggap gampangan dan ini mah jamak terjadi, saya sempat kelepasan tak sengaja.Setelah seluruh SMS terkirim, tiba-tiba kemudian muncul satu balasan SMS masuk.

"Ih Bapak, kapan-kapan saya ganti kelamin. Saya kan perempuan." Karena kaget dan penasaran, cepar-cepat saya cek lagi draft SMS. Pantesan, tujuan SMSnya kepada nama bapak-bapak. Bukan ibu-ibu.

Benar-benar kesalahan yang tidak disengaja.Rasanya hal seperti ini juga sudah rutin dan biasa terjadi. Biasa, "Kesalahan Teknis". Untuk itu saya harus minta maaf.Dan, agar tidak terulang kepada anda, silahkan bagi yang menerima SMS dari saya untuk mengecek juga ya.


"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H.
Mhon Maaf Lahir dan Batin".


Sumber: Dokumen Sinang Bulawan, 3 Oktober 2008

Rangkaian Kehidupan

Oleh: Sinang Bulawan

Ada yang indah dalam hidup ini bila dalam mengambil keputusan kita menetapi sesuatu yang baik, mengakibatkan rangkaian peristiwa pemicu akan timbulnya keputusan-keputusan yang baik pula dari pelaku-pelaku kehidupan lain yang ada di sekitar kita.

Rangkaian keputusan dalam kehidupan ini selalu berproses setiap hari, siang dan malam.Kita sadari atau tidak.Sengaja atau tidak.Kita lakukan secara sadar ataupun tidak. Begitulah adanya suatu keputusan pada akhirnya akan menciptakan pro dan kontra. Di rumah tangga, di masyarakat, di negara, dan di dunia.

Coba renungkan, hari ini berapa banyak keputusan yang kita buat?Dan, bagaimana reaksi keputusan kita tersebut menimbulkan efek domino pada kehidupan orang di sekitar kita?Menciptakain suatu rangkaian keputusan-keputusan dalam kehidupan kita dan juga kehidupan di sekitar kita.

Tidak usah jauh-jauh.Satu keputusan pagi hari saat kita bangun tidur. Ketika jam weker berbunyi jam 04.30 pagi, apa yang anda lakukan?

Bila anda termasuk orang yang disiplin maka, anda "memutuskan" akan bangun. "memutuskan" untuk membangunkan isteri atau suami. Sewaktu isteri anda "memutuskan" untuk merapikan tempat tidur, anda kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, "memutuskan" untuk wudhu, "memutuskan" untuk berpakaian.
Sewaktu anda di kamar mandi, isteri anda "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi, dan "memutuskan" untuk sholat.
Bila suami yang sangat fanatik, setelah mandi, berwudhu, dia akan menunggu isteri dan anak-anaknya untuk sholat berjama'ah. Selesai, isteri "memutuskan" untuk menyiapkan sarapan, anda kemudian "memutuskan" untuk memanaskan mobil.Anak-anak kemudian "memutuskan" untuk jalan menuju ke ruang makan, bersamaan dengan anda yang juga "memutuskan" untuk sarapan.Sarapan bersama, selesai.Kemudian anda dan anak-anak "memutuskan" untuk naik mobil, berangkat bersama-sama. Jam 05.30, anda "memutuskan" meninggalkan rumah dengan pelukan erat dan lambaian tangan sang isteri, kemudian "memutuskan" untuk mengantar anak-anak ke sekolah dahulu, baru anda memutuskan untuk menuju ke kantor.

Coba hitung, dalam waktu satu jam saja, berapa banyak keputusan yang telah anda buat?, dan berapa banyak keputusan anda yang mengakibatkan adanya rangkaian keputusan pada orang-orang lain. Bahkan mungkin anda akan lebih banyak lagi memutuskan dalam waktu pendek tersebut. Keputusan-keputusan dalam menentukan untuk gosok gigi, memutuskan untuk pakai odol pepsodent, memutuskan untuk memakai bedak, memutuskan untuk memilih baju, warna baju, warna sepatu, warna tas, memakai minyak wangi, menghidupkan TV sambil sarapan, dan lain-lainnya.

Ternyata ada juga saatnya kita "memutuskan" sesuatu yang tidak baik menjadi baik, dan apa yang kita anggap baik itu kadangkala menjadi sesuatu yang tidak baik di kacamata orang sekitar, sehingga timbul lahirnya keputusan-keputusan berbeda yang tidak kita harapkan. Namun, akhir dari keputusan yang berbeda dari orang seberang sana tersebut justru merupakan suatu keputusan yang baik bagi diri kita.



Bedakan bagaimana bila anda bukan termasuk orang yang kurang disiplin, atau termasuk orang pemalas?Apa yang terjadi bila jam weker berbunyi jam 04.30 pagi?

Anda mungkin karena merasa kurang tidur merasa lebih baik dengan "memutuskan" untuk mematikan weker, "memutuskan" untuk menarik selimut, dan tidur lagi. Isteri anda mungkin mendengar dering weker tadi, namun dengan sigap dia bangun, lantas dia juga "memutuskan" merapikan selimut. Sewaktu anda meneruskan tidur, dia "memutuskan" ke kamar mandi, "memutuskan" cuci muka dan gosok gigi.Sewaktu anda meneruskan mimpi, dia "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi.Ketika adzan subuh berkumandang isteri anda dan anak-anak "memutuskan" untuk sholat.
Selesai sholat , isteri "memutuskan" untuk membangunkan anda. Anda yang dasarnya malas, dengan rasa kesal dan jengkel "memutuskan" bangun, kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, dan berpakaian. Isteri anda mengingatkan anda sudah sholat subuh atau belum .Anda pun "memutuskan" balik lagi ke kamar mandi dengan ogah-ogahan untuk wudhu, kemudian sholat sendirian.Mungkin karena waktu sudah menjelang pagi, anda "memutuskan" untuk tidak sarapan di rumah.Anak-anak ikut-ikutan tidak sarapan.Namun isteri anda yang penuh kasih sayang, tetap "memutuskan" membungkuskan sarapan untuk anda dan anak-anak.

Nah yang susah itu adalah bila apa yang tidak baik menurut orang banyak menjadi baik menurut kita, serta merta orang lain juga mencontoh dan menjadikannya sesuatu yang baik juga.

Bagaimana kalau sepasang suami isteri yang mendengar weker berdering jam 04.30. Anda yang masih mengantuk dan memang seringkali malas, "memutuskan" untuk mematikan dering weker, dan "memutuskan" lagi untuk tidur kembali. Isteri anda yang terbangun, demi melihat anda tidur lagi, dia pun "memutuskan" juga untuk tidur lagi juga.Bagaimana dua keputusan yang saling "mengiyakan" ini akhirnya membawa dampak?Anda bisa bayangkan, apakah keduanya sholat subuh?Mungkin jadi kesiangan.Bagaimana dengan anak-anak, siapa yang membangunkan?Bisa jadi si anak bangun sendiri, tetapi bisa jadi mereka pun bangun kesiangan.Bagaimana dengan sarapan pagi? Ya kemungkinan si suami maupun anak-anak akan jajan di kantor dan di sekolah. Bagaimana dengan di jalan?Tidak menutup kemungkinan, jalanan macet.Suami membawa kendaraan dengan emosionil tinggi. Si suami dan anak-anak mungkin jadi datang terlambat di kantor dan sekolah. Saya yakin, dampak ini akanmenimbulkan efek
domino berkelanjutan di kantor dan di sekolah, siang, sampai malam waktu mereka tidur kembali.

Inilah hidup.

Kita manusia dalam keseharian hidup menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri dan menimbulkan rangkaian kehidupan bagi orang lain. Kita juga pelaku-pelaku kehidupan yang akan mengalami masa-masa berbeda, baik berdamai dengan datangnya rasa disiplin, maupun bedalih dengan datangnya rasa malas. Baik "memutuskan" sesuatu yang baik untuk diri kita dan orang lain, maupun memutuskan sesuatu yang tidak baik untuk orang lain.

Dalam kehidupan, kita sudah berakting sedemikian rupa.Bangun diwaktu pagi dengan rajin dan beraktifitas dengan keputusan-keputusan positif.Kadang-kadang kita jadi malas bangun pagi, sehingga lupa sholat maupun kegiatan baik lainnya.

Kita sering menjadi orang baik-baik, rajin, disiplin, dan hidup teratur.Hasil yang terbentuk terhadap lingkungan kita pun menjadi baik-baik juga.

Kita sering menjadikan hal yang tidak baik menjadi baik. Keinginan yang kadang radikal ini menurut orang lain tidak baik, namun mereka tidak terpengaruh, sehingga lingkungan menjadi tetap tertata baik, mengajarkan anda untuk kembali menjadi baik.

Kita juga memang kadang-kadang berkomplot untuk menjadikan yang tidak baik, menjadi seolah-olah baik. Tapi rangkaian kehidupan selanjutnya secara alamiah akan menyadarkan kita sendiri akan kesalahan yang kita baru lakukan.

Ini hanya baru satu rangkaian kehidupan diri kita dan keluarga di rumah, hanya di waktu pagi hari.

Setiap pilihan-pilihan keputusan yang kita buat sewaktu bangun tidur itu sangat penting. Baik bagi diri kita sendiri, maupun untuk keluarga kita, dan orang-orang banyak di jalan, di sekolah, di kantor, dan dimana pun kita berada dalam hari itu terhitung dari pagi, siang, dan malam harinya kembali.

Kita menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri, kita bisa juga menciptakan suatu rangkaian kehidupan orang lain, kita juga bisa menciptakan rangkaian kehidupan di kantor kita, di kota kita, di negara kita, dan akhirnya di dunia.

Coba renungkan, bagaimana seseorang yang bangun pagi di Hotel Marriott dengan sigap, dan "memutuskan" untuk meledakkan bom di lobby hotel, kemudian dampaknya menciptakan rangkaian kehidupan yang sangat cepat baik bagi dirinya, keluarganya, temannya, orang-orang di sekitarnya, di Jakarta, di Indonesia, dan bahkan dunia?

Itulah salah satu rangkaian kehidupan yang pernah terjadi dalam sejarah.

Demikianlah.
Anda memutuskan, dan anda akan menciptakan rangkaian kehidupan.

Rabu, 22 Januari 2014

Memberi

Oleh : Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Sumber: Kompas, 4 Oktober 2008

 
 
            Di penghujung Ramadhan dan awal bulan Syawal ini, kita memang jadi lebih dekat dengan kegiatan memberi. Kegiatan seperti "sahur on the road",pembagian zakat, hanyalah sebagian kecil kegiatan 'memberi ' yang bisa kita simak. Banyak orang yang memang menggunakan Ramadhan sebagai momentum untuk berbagi. Lihatlah bagaimana orang- orang berburu "uang pecahan", untuk mencari posisi strategis untuk membagikan zakat, sehingga dalam masa ini tiba- tiba orang miskin menjadi titik perhatian. Bahkan, orang yang tidak terlalu miskin pun, rela-relanya menggunakan seragam sapu jalanan sekedar untuk mendapatkan "pembagian".


            Pernah pada suatu hari saya menasihati putra- putra saya untuk tak lupa memberi saudaranya yang kesusahan, bila kelak mereka sudah berdiri sendiri., namun salah satu diantara mereka bertanya:' Kalau yang diberi, malah kemudian tidak mau usaha lagi dan keenakan minta-minta terus bagaimana?" ini memang pertanyaan yang sulit dijawab terkadang niat baik untuk memberi memang perlu juga dibarengi 'strategi' agar pemberian kita bisa berdampak lebih panjang daripada sesaat saja. Mungkin, ini juga sebabnya banyak orang yang tidak setuju untuk memberi sekedar uang penyambung hidup. Ada yang berkata : "lebih baik memberi pancing dari pada ikannya."Teman saya, yang mengalami "sahur on the road" bahkan mengatakan tidak akan melakukan aktifitas itu lagi, karena ternyata sasaran pemberian tidak terlalu tepat. Meskipun kelihatannya tidak simple, mudah dan dilakukan secara turut ikhlas, memberi bisa memiliki berbagai dimensikemanusiaan yang perlu kita pikirkan dalam- dalam.
            
Jangan Memberi Sekaligus Menerima
 
            Berkali-kali kita saksikan banyak orang memberi karena ingin menghitung "return"-nya, apakah berbentuk pahala, potongan pajak, harga diri, reputasi," nama baik", bahkan kepentingan golongan tertentu, sehingga memberi sedekah perlu diabadikan, didokumentasikan, bahkan di-'pasar'kan. Padahal, jelas-jelas hadist Nabi Mengingatkan :"Berinfaklah atau memberilah dan janganlah kamu menghitung- hitung, karena Allah memperhitungkanya untukmu."


            Kita lihat dalam memberi, ketulusan dan kerelaan saja tidak cukup, melainkan kita pun benar- benar perlu menyiapkan mental untuk melepaskan property dan "diri" kita dengan memikirkan kepentingan orang lain secara 100% dan utuh. Teman saya yang sering memberi pamanya segepok uang tanpa pikir panjang pernah saya tanyai, mangapa ia memberi pamanya uang sebanyak itu. Teman saya menjawab dengan santai :"Selain dia memang sangat memerlukanya, saya selalu ingat, waktu saya masih kecil, ia pun melakukan hal yang sama dengan saya. Tanpa kebaikanya dulu, mungkin saya tidak pernah akan membeli mainan….." Kerelaan pemberi memang akan terlihat dari bagaimana ia menganalisa penerima dan egoisan pribadinya. 


"Remove self. What remains is contribution.", demikian Tad Waddington, dalam best sellernya :"Lasting contribution."
 
 
Menakar Mutu Pemberian = Menakar Mutu Kehidupan
 
            Setiap individu, pada suatu hari yang baik, pastinya pernah bertanya pada diri sendiri :" Apa yang sudah saya beri pada orang lain dan Negara, serta apa niat dari pemberian kita?" Pada saat- saat itulah kita bercermin dan melakukan audit etikal tentang dosa dan kebaikan, kecurangan dan kemenangan, serta hal- hal yang fair dan tidak fair yang pernah kita lakukan. Disitu juga kita bisa mengevaluasi apakah pemberian kita itu demi diri pribadi, demi menyenangkan orang lain, demi kelangsungan hidup perusahaan atau demi nilai-nilai yang lebih luhur seperti pendidikan, mutu lingkungan hidup dan kemanusiaan? Syukur- syukur bila kita bisa menakar kontribusi yang sudah ada kita berikan pada keluarga, perusahaan, kompleks perumahan kita, bahkan Negara "Life is difficult, and doing something important with your life even more difficult". Satu hal yang jelas, kita pastinya akan merasa jauh lebih "happy" dan bermakna bila kita bisa
melihat apa yang sudah kita kontribusikan ke kehidupan orang lain, tempat kita hidup, dan tidak menyibukkan diri kita pada harta, reputasi, nama baik dan keberadaan diri sendiri saja.


            Banyak sekali orang mengkonotasikan pemberian secara material, padahal dengan niat yang tulus dan demi nilai-nilai yang luhur, pemberian dapat kita lakukan dalam bentuk- bentuk lain seperti enerji, waktu bahkan pengetahuan. Untuk orang- orang "biasa"seperti kita-kita yang tidak punya uang atau harta "lebih" untuk dikontribusikan banyak- banyak, kita memang perlu bertindak sekaligus berpikir untuk menghasilkan kontribusi yang berdampak dan ber-"arti", serta memiliki manfaat jangka panjang bagi orang lain. Dengan memberi bimbingan pada tetangga tentang pengetahuan akan makanan sehat,  atau melakukan "toilet training" ke putranya dengan tepat, kita sebetulnya sudah "melakukan sesuatu". 


Abang saya dikenal dengan "handyman" di  lingkungan tempat tinggalnya, dan menjadi dokter pompa air, 'tukang' membetulkan kunci macet dari para tetangga. Suatu hari salah seorang tetangganya nyeletuk:"tidak bisa dibayangkan bila beliau tidak ada lagi di sekitar kita". Disanalah harga kontribusi personal kita terangkat menjadi nilai yang berharga. Jadi banyak hal yang bisa kita lakukan dengan 'memberi', tanpa terlalu perlu menggangu ekuilibirium material atau kocek pribadi, dan tapi membawa manfaat besar bagi orang lain. Bahkan Andreas Hirata dalam filmnya "Laskar Pelangi" sampai dua kali berpesan:"Berusahalah memberi sebanyak-banyaknya dan jangan menerima sebanyak-banyaknya…". 

Nah, sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari in?

Bola Itu Bundar

Oleh: Sinang Bulawan
 
 
Apakah anda termasuk penggemar bola?
Piala Dunia sudah dimulai. Apakah anda yakin bahwa kesebelasan yang anda jagokan sudah memenuhi perkiraan anda?
 
Ada yang menarik sejak laga Piala dunia Afrika Selatan 2010 dimulai tanggal 11 Juni 2010 yang lalu, yakni munculnya kesebelasan yang dulunya tidak pernah diunggulkan, menjadi jagoan baru. Selain itu, tumbangnya kesebelasan yang menurut prakiraan di atas kertas, bakal menang mudah atas suatu kesebelasan.
 
Pada putaran pertama, sebagian orang tidak percaya bila Spanyol bisa dikalahkan Swiss, dan Jerman takluk terhadap Serbia. Dan, yang sangat menghebohkan adalah bagaimana Perancis dan Italia bisa tersingkir di babak pertama.
 
Bola itu bundar.
 
Banyak sekali kata-kata ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari. 
Bola memang bentuknya bulat, namun bila sudah ditendang ke sana ke mari maka bentuknya menjadi bulat berputar sehingga menjadi bundar. Kita tidak akan tahu akan sampai mana akhirnya. Tergantung dari gerakan kaki-kaki yang menendang, dan kecepatan bergulir bola itu sendiri.
 
Suatu ujung yang tidak akan pasti, sampai wasit menghentikan pertandingan dalam waktu 2x45 menit. Pada saat itulah skor menentukan.
 
Bola itu bulat.
 
Dari dulu bola itu dibuat bulat, namun kemasannya berbeda-beda. Dari tahun ke tahun. Dari ajang Piala Dunia satu, ke Piala Dunia berikutnya.
 
Untuk Piala Dunia 2010 ini, Adidas memiliki lisensi untuk membuat bola resmi Piala Dunia 2010. Dan dengan keinginan FIFA agar gol banyak tercipta, maka Adidas pun berusaha membuat bola yang diinginkan FIFA tersebut. Panel-panelnya didesain lebih memudahkan striker mudah menembak, gelandang mudah menggiring bola, dan kiper mudah menendang serta menepis bola.
 
Begitupun desain pembentukan kulit pembalut bola itu sendiri. Kalau dulu kita tahunya bentuk bulat bola itu dibuat dengan menjahitkan satu puzzle bersegi lima dengan puzzle-puzzle seperti itu lainnya, maka sekarang bentuknya sudah lebih aneh. Sudah sangat modern, yang tidak akan bisa dibuat dengan manual seperti dulu. Sekarang kemasannya sudah tidak dijahit tetapi menggunakan sistem perekatan dengan mesin.
 
Bola itu Jabulani.
 
Piala Dunia di Afrika Selatan tidak terlepas dari penggemar bola seperti dimanapun berada. Hanya saja di Afrika Selatan ini, mereka menamakan bola itu Jabulani.
 
Keanehan nama ini juga tidak mengherankan karena setiap negara dan suku di dunia memiliki perbendaharaan kata tertentu untuk yang namanya bola. Namun, Jabulani ini memang sedikit berbeda dengan bola FIFA sebelumnya. Pada Piala Dunia sekarang, Jabulani dibuat Adidas lebih ringan dan sisi permukaan kulitnyanya lebih lebar 70 persen. Jadi jangan heran bila banyak penjaga gawang tak bisa menguasai Jabulani, ini karena memang bolanya memang lebih ringan sehingga gampang lepas bila kiper tidak kukuh menangkapnya.
 
Bola itu bundar, Bung!
 
Bila di Piala Dunia ini, ternyata Jabulani membuat beberapa kesebelasan yang tidak diperhitungkan, menjadi jagoan atau bisa bertahan seimbang dengan kesebelasan unggulan, bisa jadi apakah karena mereka sudah menguasai Jabulani? Atau, apakah karena ada penyebab lainnya?
 
Memang bola itu bentuknya bulat, dan bola itu sekarang namanya Jabulani, tetapi bola itu tetap bulat berputar waktu ditendang. Bundar. Sesuatu yang tadinya pasti, sekarang menjadi tidak pasti.
 
Boleh saja Brazil dan Argentina dikenal unggulan dalam Piala Dunia. Boleh saja Perancis sebelumnya Juara Dunia, dan Italia gudangnya pemain profesional, namun untuk pertandingan semua skor itu tidak akan ada kepastian. Banyak faktor yang menentukan, mulai dari kwalitas pemain, pelatih, lamanya latihan, pembinaan, pendidikan, sampai ke hal-hal kecil seperti ras atau suku bangsa, makanan dan gizi pemain, mental dan emosi pemain, taktik dan strategi, tempat pertandingan, penonton, dan lain-lainnya.
 
Penilaian diatas kertas bisa saja dibuat dengan analisa-analisa, tetapi hasil pertandingan berbicara lain.
 
Inggris bisa kalah dari Swiss bisa jadi karena Swiss adalah kesebelasan pendatang baru, sehingga Inggris menganggap enteng.
 
Argentina tidak belajar dari kesalahan Inggris di perdelapan final. Akibatnya Argentina kalah oleh Jerman di perempat final. Ini menyangkut strategi dan taktik.
 
Dua contoh tadi menggambarkan itulah permainan bola, dan bola itu bundar.
 
Awalnya kita bisa memperkirakan dan hasil akhirnya kita tidak akan tahu. Semua tergantung dari usaha kita. Kita bisa merencanakan, tetapi usaha kitalah yang akan menentukan.
 
Memang menarik. Dan, apakah Juara Piala Dunia nanti juga akan ditentukan oleh takdir.
 
"Saya percaya takdir, tetapi takdir yang diusahakan," kata Dahlan Iskan.

 
Beliau sekarang menjabat sebagai Direktur Utama PLN. Dulunya, beliau adalah Pendiri kerajaan bisnis Jawa Pos.



Sumber: Dokumen Sinang Bulawan, 5 Juli 2010

Senin, 20 Januari 2014

Buku Kehidupan

Oleh: Teha Sugiyo

Setiap hari, kehidupan menawarkan kepadamu, halaman kosong pada buku kehidupanmu. Masa lalu sudah tertulis dan kau tak dapat merngubahnya. Pada halaman masa lalu itu kau dapat menemukan kembali kisahmu. Beberapa halaman mungkin memiliki warna lembut, ceria atau cerah penuh kemegahan. Namun pada halaman-halaman lain mungkin kau menemukan warna-warna yang buram, kusam, abu-abu, bahkan gelap penuh kengerian.



Kecantikan, keindahan, kegembiraan, mengingatkanmu akan masa-masa bahagia. Pada halaman yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan itu mungkin kau ingin mengabadikannya atau kau ingin menyimpannya, sehingga sewaktu-waktu kau dapat mengenangnya kembali. Pada halaman yang buram, kusam dan penuh jelaga hitam mungkin kau tak ingin mengingatnya, sehingga kau merobeknya dan membuangnya jauh-jauh.



Hari ini, kau mendapatkan kesempatan untuk menulis halaman yang lain. Seseorang telah memberikan kepadamu sebuah pena, tertutup dan solid. Kau tidak dapat melihat berapa banyak tinta yang tersedia. Mungkin saja tintanya akan segera habis begitu kau mulai menulis. Tapi mungkin juga tintanya cukup banyak untuk menuliskan mahakarya yang akan menjadi sebuah legenda. Kau tidak pernah tahu sebelum menulis. Kau harus mengambil resiko.



Sebetulnya tidak ada peraturan yang mengharuskanmu untuk memulai menulis. Bahkan kau bisa saja menyimpan pena itu dalam laci, melupakan dan membiarkannya mengering. Tetapi, kalau kau memutuskan untuk menggunakannya, apa yang akan kau lakukan? Cerita seperti apa yang akan kau tulis? Apakah kau akan mulai dengan sebuah rencana sebelum kau menulis? Apakah rencana itu begitu agungnya, sehingga kau tidak punya waktu untuk mulai menulis? Atau kau langsung saja menulis, terbawa alur dan alunan setiap kata tanpa kau dapat berpikir lagi, membiarkan kata demi kata mengalir, membawa dan mengaturmu.


Apakah kau akan menulis dengan sangat hati-hati seakan-akan pena ini akan habis dalam waktu yang singkat? Atau mungkin kau akan menulis seolah-olah tintanya tidak kunjung habis? Dan cerita macam apa yang akan kau tulis? Cerita tentang keputusasaan, kebencian, kesengsaraan, kematian dan kekosongan? Ataukah cerita tentang cinta, romantika kehidupan, kelucuan, kegembiraan, perjuangan, semangat,  optimisme, harapan dan kebahagiaan?



Apakah kau menulis hanya untuk kepuasanmu sendiri, kepuasan orang lain, atau untuk diri sendiri dengan cara memuaskan orang lain? Bagaimana kau akan menuliskan ceritamu?


Apakah kau akan menuliskannya dengan tangan gemetar, atau dengan kepercayaan seteguh batu karang? Bagaimana bentuk tulisan yang ingin kau hasilkan? Dengan tulisan yang indah, ataukah tulisan yang biasa-biasa saja, atau bahkan kau tidak akan menulis sama sekali?



Tidak ada yang mengatakan kepadamu,  kau harus menulis. Kau dapat mencorat-coret, atau menggambar. Apakah kau akan menulis dengan rapi mengikuti garis, atau kau tidak melihat adanya garis? Begitu banyak yang harus kau putuskan untuk menulis sebuah cerita..


Bagaimana kau akan menuliskan hari-harimu? Semua itu terserah kepadamu untuk memilih warna-warni yang akan kau gunakan untuk menghiasi buku kehidupanmu. Pada saat-saat kau menghadapi kemalangan, kau dapat saja menambahkan warna kelembutan, kesucian, atau ketegaran, yang menyatakan sekalipun dalam kesulitan, kau toh tetap menjadikannya sebuah pengalaman yang indah. Itu semua tergantung kepada keinginan dan sikap optimismu untuk menghiasi halaman hari ini pada buku kehidupanmu, menjadi halaman yang dapat kau simpan sebagai kenangan sangat indah pada tahun-tahun yang akan datang.



Jangan bimbang dan ragu, kau dapat saja berdamai dengan  Tuhan dan alam di sekitarmu. Kau akan menyukai kehangatan sinar matahari yang berwarna keemasan di pagi cerah,  angin sepoi yang bertiup lembut, sejuk dan segar dirasakan, cinta, dan hasrat membuncah terhadap seseorang yang sangat kau sayangi, juga banyaknya berkah melimpah yang dianugerahkan Tuhan atas terkabulnya doa-doamu.



Nikmati hari yang baru. Bukalah pintu hatimu dan siapkan gudang dalam benakmu untuk menyimpan segala yang baik dalam hidup dan kehidupanmu pada setiap detik, setiap menit, setiap jam yang kau lalui. Jalani setiap saat dalam kehidupanmu dengan senyuman, dan sikap untuk senantiasa memberikan yang terbaik. Sebaiknya tidak menyakiti hati orang lain, apalagi menghancurkan hidupnya. Taburkanlah selalu kegembiraan dan kebahagiaan.


Berikan senyummu kepada setiap orang, dan tawarkan senantiasa bantuan. Tidak perlu merasa terlambat untuk mengubah haluan, memulai lagi sesuatu yang baru, menuliskan kembali kebahagiaan dan kedamaian pada halaman baru buku kehidupanmu.



Bersyukurlah senantiasa kepada Tuhan untuk hadiah hari ini, juga untuk kesempatan mengubah hari ini menjadi suatu halaman baru yang sangat indah dalam buku kehidupanmu. Ingatlah bahwa jika masih ada iri hati, dendam, sakit hati, kebencian, amarah dan dengki, hal itu akan membuat masalah dan kesulitan dalam hidupmu. Jiwamu akan terluka. Namun semuanya itu terserah kepadamu, bagaimana kau akan menghiasi lembar-lembar kehidupanmu hari ini… jika ini merupakan hari pertama dalam  dalam kehidupanmu…. Ataukah bahkan merupakan hari terakhir dalam kehidupanmu…. atau hanyalah suatu hari dalam buku kehidupanmu…  Pastikan bahwa namamu tertulis dalam buku kehidupan…



Sesungguhnya aku katakan kepadamu:


Bukalah pintu hatimu untuk segala kebaikan

Bukalah jendela jiwamu untuk kebahagiaan


Semoga hari-hari yang kau lewati penuh kebahagiaan dan kedamaian.

Buy One Get One Free

Oleh:  Sinang Bulawan

Teman saya punya cerita tentang si Bedul, orang Arab yang sedang naik bus lintas antar propinsi. Dia berangkat dari Pekalongan menuju Banda Aceh. Pada saat mendekati tujuan mampirlah bus tersebut di rumah makan. Berhubung sudah cukup lama dalam perjalanan, sebagian penumpang berebut ke toilet. Kamar-kamar mandi berbaris ada lima. Di depan pintu masuk dijaga orang Aceh. Ada tulisan yang mengingatkan bagi yang buang air besar bayarannya seribu, dan bagi yang buang air kecil bayarannya lima ratus rupiah.

Masuklah si Bedul ke salah satu WC, dia betul-betul kebelet mau buang air besar. Cukup lama memang dia di dalam WC.
"Bayar Pak", kata si orang Aceh ketika Bedul keluar.
Si Bedul mengeluarkan recehan uang lima ratus dan menyerahkan ke si penjaga.
"Bapak lama sekali di WC, tidak mungkin kencing. Bapak pasti buang hajat. Bapak berak ya? Bayarannya bukan lima ratus pak", kata si Aceh.
Si Bedul mengeluarkan recehan lima ratusan lagi. Sewaktu akan menyerahkan, si penjaga menolak.
"Enak aja Bapak ini. Kurangnya seribu lagi Pak. Bukan lima ratus".
Si Bedul heran, bingung dan mulai agak emosi.
"Eh emangnya ane salah ape? Haaah!".
"Kalau Bapak berak, Bapak juga sudah pasti kencing. Coba ingat, betul ndak. Jadi bayarannya lima ratus tambah seribu, seribu lima ratus Pak".
Ah kau ini, diskonlah. Berak bayar seribu, kencing kasihlah gratis".
"Ndak bisa, itu sudah aturan di sini. Lain kali Bapak berak saja di tempat lain".
"Dasar si Bedul".
"Hahahahahahahahahaha....", kami yang mendengarkan semua tertawa.

Cerita berlanjut, si Bedul masuk ke ruang makan. Habis buang air dia lapar. Makanlah dia sepuas hati. Selesai makan, dia merokok. Berhubung dilihatnya sopir dan kenek bus masih sibuk makan, dia pikir masih cukup waktu untuk minum kopi. Ini kebiasaan dia kalau lagi merokok. Kemudian dia panggil pelayan.
"Ane pesen kopi", katanya.
"Panas atau dingin Pak?".
"Ada lagi yang aneh di sini. Kopi dingin saja dijual", pikir si Bedul.
"Berapa harganya?".
"Panas seribu, dingin seribu lima ratus", jawab pelayan.
"Ane minta yang panas aje", kata si Bedul.

Tidak lama datanglah pesanan si Bedul, kopi panas. Cepat ditiup dan disruputnya, walaupun masih panas. Apalagi dia lihat si sopir sudah selesai makan. Dia pikir tidak lama lagi bus akan berangkat.
"Sabar Pak, masih lama. Masih cukup waktu. Santai saja. Saya juga masih mau merokok", kata si kenek ketika melewati meja si Bedul, dan dilihatnya kalau si Bedul terburu-buru ingin menghabiskan kopi di cangkir.
"Oh ya, tapi ane harus habisin ini kopi selagi panas", balas si Bedul.
"Emangnya kenapa Pak?", si kenek malah heran.
"Kalo sempat dingin, ane harus nambah lima ratus", kata si Bedul. Dia memang tidak tahu kalau kopi dingin di Aceh artinya kopi es.
"Dasar si Pelit".
"Hahahahahahahaha...", kami semua tertawa.

Perjalanan berlanjut. Sampailah Bedul di rumah menantunya. Dia datang karena diminta oleh anak perempuannya untuk datang ke Aceh, membantu dan menemaninya, karena baru saja melahirkan anak pertama. Menantunya yang laki-laki, orang Aceh. Bedul senang sekali karena baru mendapat cucu pertama. Dia berencana untuk sebulan tinggal di Aceh. Sekadar menutupi ongkos, dia bawa dagangan dua dus besar kain sarung. Rencananya mau dijual setiap hari Jum'at selepas sholat di halaman Mesjid Raya Banda Aceh. Dia pikir sekali jalan dapat dua tujuan. Ketemu anak sekalian bisa cari ongkos, dan ada lagi yang lain sesuai anjuran nabi, mencari akherat dan dunia tidak dilupakan. Sholat Jum'at kemudian jual sarung.

Karena baru pertama datang di Banda Aceh, si menantu berusaha ingin menyenangkan mertuanya. Diajaklah si Bedul keliling kota dengan motor vespa. Capek keliling kota, si menantu berniat mengajak mertuanya ke departemennt store, Matahari. Ingin membelikan sesuatu untuk mertuanya.
"Nak, buy one get one free itu artinya apa?"
"Beli satu dapat satu lagi tapi gratis Bah," jawab si menantu, ketika si Bedul melihat tulisan di tumpukan kain yang diobral.
"Abah ingin dibeliin apa?"
"Abah tidak minta, tapi kalau anak mau kasih, Abah mau dibeliin sarung aje."
"Kan Abah sudah jual sarung, memang untuk apa lagi?."balas si menantu.
"Abah mau dibeliin sarung itu," kata si Bedul sambil menunjuk ke obralan kain. "Beli satu dapat satu gratis, "kata si Bedul. "Lumayan nak, Abah bisa pake satu, satunye lagi bakal Abah jual. Kamu dapet pahala, Abah dapat duit," jawab Bedul.
"Dasar si Abah."
"Hahahahahahahahahaha...', kami semua tertawa.

Setelah belanja, mereka berencana pulang. Keluar dari mall, si Bedul menghitung-hitung dalam hati.
"Dua kaen harganya 50 rebu. Berarti satu kaen harganya dua puluh lima rebu. Murah sekali. Lha, kaen ane lebih jelek. Mau dijual harganye tiga puluh rebu. Laku kagak ye?. Kalo laku ane untung sepuluh rebu, kalo kagak berarti ane harus bawa balik ke Pekalongan. Kagak dape ongkos nanti. Wah gawat, ane harus cari akal."
"Obeng..obeng, tang...tang, cutter, pisau, apa saja. Dikasih..dikasih...banting harga. Empat sepuluh ribu,"suara seorang pedagang di emperan toko, ketika si Bedul dan menantunya lewat, mereka ingin menuju jalan besar.
"Empat sepuluh, kalo satu artinye dua rebu lima ratus. Ah ane ada akal," kata si Bedul dalam hati.
"Nak sebentar, Abah mau beli obeng dan tang,"kata si Bedul kepada si menanntu.

Sibuklah dia mengumpulkan barang-barang. Ada sekitar seratus. Ya obeng, ya tang, kunci gembok, pisau, alat pencukur kumis, dan lain-lain. Pokoknya macam-macam.

"Nak, abah pinjem duit dua ratus rebu, nanti Abah pulangin,"si menantu bingung tapi tetap tidak bertanya waktu menyerahkan uang.
"Semuanya dua ratus ya," tawar si Bedul ke si penjual.
"Wah Be berapa banyak ini yang dibeli?"
"Semua ane beli."
"Semuanya dua ratus lima puluh ribu Be."
"Mau abis ape ente mau mati kelaparan?, ane mau beli semua. Dikasih ayo, tidak ya batal semua."
"Ya sudah Be, ambil saja semua. Daripada pulang dimarahi bini. Balik modal sajalah."
"Nah gitu kalo jadi pedagang harus baek-baek."

Senang sekali si Bedul.
"Barang seharga dua ratus lima puluh rebu, ane bisa beli cuma dua ratus. Kalo dijual, ane kan untung lima puluh ribu. Selaen itu, ane juga bisa jual semua kaen. Satu kaen kalo laku dijual, hadiahnye boleh ape aje. Mau obeng, mau tang, atau terserah. Semua yang beli kan laki-laki. Jadi butuh peralatan tukang, atau alat cukur,"batinnya.
"Ane jual kaen satu tiga puluh rebu. Ane pakai taktik nih. Untungnye tujuh rebu aje. Jadi modalnye 23 rebu. Dua puluh modal kaen, tiga rebu modal obeng atau tang. Siape beli satu kaen ane kasih hadiah satu obeng. Harga obeng kan cuma dua rebu lima ratus, nah ane jual tiga rebu. Jadi walau hadiah, ane masih dapet untung lima ratus perak," otak si Bedul terus menghitung.
"Dasar licik."
"Hahahahahahahahahaha.., "kami semua tertawa.

Sampailah hari Jum'at. Selesai sholat si Bedul bergegas menggelar jualan di depan mesjid.
"Kaen..obeng, kaen..piso!"
"Obral..obral..beli kaen dapet obeng..beli kaen dapet piso!"
"Bai wan get wan prei, beli satu dapet hadiah satu, murah..murah!"
"Ditanggung tidak luntur..kaen..kaen..!"
"Luntur dikit barang ditanggung..kaen..kaen..!"
"Bai wan get wan prei, beli satu hadiah satu!"
"Beli..beli..mumpung saya lagi baek ati!"
Tidak sampai dua jam dagangan kaen si Bedul habis sekardus. Empat puluh kaen terjual.
"Nah kaye deh ane. Dasar orang Aceh mau ane tipu, "Bedul melenggang pulang sambil senyum simpul.
"Dasar pedagang."
"Hahahahahahahahaha..."

Seminggu kemudian, Bedul kembali menggelar dagangannya. Saat tinggal sepuluh kain tersisa, tiba-tiba muncul bapak-bapak di hadapannya. Si Bapak langsung merenggut kerah baju si Bedul.
"Eh, kamu penipu. Kaen sarung yang saya beli dulu ternyata luntur. Nih liat sendiri, "kata si Bapak sambil melemparkan bungkusan koran berisi kain.
Si Bedul tenang saja. Sambil membuka koran dan melihat kainnya, dia bertanya. "Ini cuma kaen, mane obengnye?"
"Obengnya saya kasih anak saya. Memang kenapa!"
"Nah dulu ane udeh bilang, luntur dikit ditanggung. Obeng itulah buat penggantinye. Minta ganti aje bapak dengan anaknye.
"Kalau tidak mau luntur jangan beli di sini. Beli tempat laen aje pak, "kata si Bedul sambil melempar kembali bungkusan.
Si Bapak itu cuma melongo.
"Dasar Arab, "umpat si Bapak sambil melengos pergi.

Si Bedul pun menggulung alas dagangannya, karena pembeli bubar.
Minggu berikutnya si Bedul tetap menggelar lagi jualannya.
"Obeng..tang..piso!"
"Beli tiga hadiah kaen!"
"Bai tri get wan prei!"
"Beli..beli..banting harga..!"
"Murah..sangat murah..mau pulang kampung!"
"Dasar si Bedul."

"Hahahahahahahahaha.."


Dokumen Sinang Bulawan: Juni 2007

Sabtu, 11 Januari 2014

Ada Pembatas Diantara Kita

Oleh: Sinang Bulawan

Perlahan-lahan ruangan kerja saya menggelap....
Padahal matahari mencorong pagi ini, "ada apa ya?".
Saya agak heran, kaca di depan terang, kok di sebelah kiri saya gelap. Seolah-olah ada yang menutupi.
"Ouu.., rupanya diluar, disebelah kiri, ada dua kawat seling yang bergerak, diikuti dari bawah dengan munculnya gondola membawa dua pekerja yang akan membersihkan kaca-kaca gedung. "Reeeet..jeg", stop. Persis di samping meja komputer saya. Ini penyebabnya to, pantes sinar matahari pagi yang biasa menembus ke ruangan menjadi terhalang.

Kursi saya putar menghadap ke mereka.
Ada pembatas diantara kami, kaca kantor gedung bertingkat.

Mereka bergelantungan di dalam kotak sempit, diketinggian sekitar 20 meter dari tanah.
Saya duduk dikursi empuk, berputar, di gedung kantor pada lantai 13.
Mereka memakai pakaian kerja seadanya dan kotor, lengkap dengan topi.
Saya berpakaian necis, lengkap dengan dasi.
Mereka bekerja dengan air sabun, lap, dan karet pembersih.
Saya bekerja dengan komputer.
Mereka kerja berkeringat karena kepanasan.
Saya kerja nyaman karena hembusan alat pendingin.
Mereka muda.
Saya tua.
Resiko pekerjaan mereka, jatuh dan mati.
Resiko pekerjaan saya, pusing dan stress.

Saya tersenyum dengan mereka. Satu orang membalas dengan senyuman juga, sedang temannya sibuk menyiram kaca dengan air sabun. Terlihat titik-titik keringat keluar dari dahi mereka. "Hauskan mereka?", karena saya tidak melihat ada botol atau termos air minum. Ingin saya membantu mereka, tetapi terhalang. 

Ada pembatas diantara kami, kaca kantor yg kuat dan tebal.

Saya menduga-duga dalam hati, tamatan apakah mereka? Mungkin SD, mungkin SMP, mungkin SMA atau STM. Tapi rasanya sekarang sudah jarang orang tamatan SD dan SMP yang diterima kerja di perusahaan kontraktor. Pastilah mereka lulusan SMA atau STM.
Saya perhatikan staf-staf saya sampai tenaga administrasi di ruangan kerja. Iya, ya. Semua staf rata-rata tamatan universitas, sedang sebagian besar tenaga adminstrasi rata-rata tamatan SMU. Hanya sebagian saja yang tamatan universitas. Dan sudah bukan rahasia umum lagi bahwa pekerjaan adminstrasi di perkantoran saat ini diserahkan kepada kontraktor. Begitu juga di kantor saya, sebagian besar tenaga kerja administrasi adalah kontraktor. Hanya clerk senior, sekretaris, dan staf-staf saja yang ditanggung langsung oleh perusahaan. Berapa gaji mereka?. Pernah hal ini saya tanyakan kepada salah satunya, "Satu setengah pak". Satu setengah juta rupiah untuk tenaga kerja adminstrasi selama delapan jam, dengan pekerjaan didepan komputer, dan surat menyurat. Mereka yang diluar itu berapa ya?, dan gaji saya? Hah, beda berlipat-lipat.

Ada pembatas diantara kami, walaupun sama-sama bekerja.
Ada pembatas diantara kita, karena beda waktu pendidikan hanya enam tahun.

Saya pernah mengalami seperti mereka. Baru satu tahun saya kuliah di Yogya, Bapak saya meninggal. Karena mengingat keuangan keluarga tidak memungkinkan saya memutuskan berhenti kuliah, dan mencari kerja. Dalam waktu yang pendek, saya diterima bekerja di perusahaan pupuk di daerah Sumatera, sebagai tenaga operator produksi. Hanya dengan ijazah SMA, dan setelah melalui seleksi berkali-kali dan lama, dilanjutkan dengan training enam bulan.
Pada saat training, saya lihat banyak kelas didalam gedung tersebut. Ada yang untuk kami, ada yang untuk kursus karyawan, dan ada juga yang untuk training karyawan staf. Saya...., ya training untuk tenaga non-staf. Waktu training tidak mendapatkan gaji, karena sistem gugur. Alhamdulillah, saya lulus, dan teken kontrak untuk percobaan satu tahun dulu.
Dapat gaji seratus ribu dibulan pertama, Februari 1981. Pekerjaan saya berat, karena harus bekerja fisik, dan melalui sistem shift. Kadang lima hari kerja malam, libur dua hari. Berikutnya kerja siang lima hari, libur lagi. Masuk kembali kerja sore. Begitulah terus-terusan.

Pada suatu saat, pernah saya sedang mengoperasikan pompa yang ngadat, datang seorang supervisor mendekati saya. "Berapa lama lagi pompanya bisa jalan, dik?".
"Kira-kira sepuluh menit, pak". "Ok, kalau sudah kasih tahu saya, ya". Saya lihat dia mencatat sesuatu, dan pergi.
Namanya Pak Agus, tamatan Teknik Kimia UGM. "Enak benar ya, kerjanya".
Dari obrolan sesama teman sekerja, saya menangkap kalau gaji mereka yang baru sekitar satu juta rupiah, atau sepuluh kali lipat dari saya.

Ada pembatas diantara kami,
Saya lulusan SMA, dia lulusan universitas.
Saya operator, dia supervisor.
Saya non-staf, dia staf.

Beda 7 golongan antara saya dan dia. Bila kenaikan dari satu golongan ke golongan yang lebih tinggi dibutuhkan minimal tiga tahun, berarti 21 tahun lagi saya mencapai jabatan supervisor.
Ada suatu keinginan untuk merubah nasib, saya ingin jadi Insinyur, saya harus sekolah lagi. Berhasil.
Saya lulus dan diterima di universitas negeri di daerah itu. Karena kerja saya shift, maka waktu kuliah dan bekerja dapat diatur. Apalagi banyak teman yang membantu untuk menggantikan posisi di tempat saya bekerja bila bersamaan waktunya dengan ujian di kampus. Karena diselingi dengan bekerja, maka enam tahun akhirnya selesai. Cita-cita saya menjadi Insinyur tercapai juga.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita(pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS An-Nisaa:32).

Dalam lamunan, saya dikagetkan dengan suara ketukan. Saya tersentak. Saya lihat ke arah pintu tidak ada tamu. Tapi ada ketukan lagi. Oh, dari jendela. Mereka mengacungkan jempol, dan perlahan-lahan gondola mereka turun ke bawah. Rupanya sudah selesai, dan mereka pamit.
Mereka tersenyum sewaktu saya lambaikan tangan.

Mereka pasti melihat saya, mungkin hati mereka juga berkata, "alangkah enaknya bapak itu kerja di dalam".
Tapi, pernahkah terlintas dalam pikiran mereka untuk merubah nasib?
Sehingga mereka dapat menembus batas pemisah kehidupan?
Mudah-mudahan suatu saat mereka membaca tulisan ini.



Dokumen: Sinang Bulawan, 20 Juli 2006