Dering telepon di siang
hari ini menyadarkan saya dari kesibukan kerja yang tidak habis-habisnya di
meja. Dua kali sudah berdering, semuanya saya abaikan.
Baru dering ke tiga
membuat saya menghentikan aktifitas. Namun begitu telepon siap saya angkat,
ternyata sambungan terputus.
Dari monitor HP saya
lihat ada sinyal missed call dengan nomor telepon yang tidak saya kenal. Tidak
ada namanya, berarti telepon dari seseorang yang tidak terdaftar di memori HP.
Menimbang waktu kerja mendekati makan siang, saya terpikir untuk sedikit
bersantai sambil menghubungi balik si penelpon.
Lama telepon tidak
tersambung, kemudian ada suara yang menjawab. Suara
laki-laki. Pangling saya,
suara yang pernah saya dengar. Siapa ya?
Betapa senang hati ini
ketika tahu kalau telepon di ujung sana berasal dari suara teman lama
yang sudah berpisah 20 tahun lamanya. Percakapan menjadi riuh dan seru
mengingatkan kembali hubungan erat saya dengannya. Mulai dari masuk kerja
bersama-sama. Berangkat kerja berboncengan dengan sepeda bersama-sama, kemudian
sambil berkerja kami juga masuk kuliah bersama-sama. Hanya menjadi sarjana
saja, saya lebih dulu empat tahun darinya.
Bayangan senyum dan
perilaku nakal teman saya masih membekas, di kala hubungan telepon kami
selesai.
Saya terdiam, mengenang
kembali percakapan dari teman tadi. Suatu keinginan kuat dia untuk
bersilaturahmi dalam rangka suasana Idul Fitri, sehingga dia berhasil
mendapatkan nomor HP saya entah dari siapa. Sebagai sesama teman rasanya saya
tidak merasa ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Tapi teman saya
berkeyakinan lain. Kata-katanya yang terakhirmembuktikan itu, dan masih membekas
terngiang di telinga saya.
”Kita sekarang lain ya.
Kamu kan sudah Boss!”
Tahun 1988, saya resmi
berpisah dengannya, di saat saya keluar dari perusahaan.
Keputusan bulat dua puluh
tahun yang lalu, membuat saya melepaskan segala
predikat dan fasilitas
dari perusahaan di tempat dimana teman saya tersebut sampai saat ini masih
berkerja. Kenyamanan gaji yang cukup besar, kegembiraan akan mendapat bonus
tahunan sampai enam kali gaji tidak menyurutkan langkah saya.
Persoalannya hanya
sepele. Perusahaan tersebut tidak mengakui kesarjanaan saya. Saya tertantang.
Walau sudah berkerja delapan tahun, saya pun kemudian keluar hanya untuk
membuktikan kalau saya bisa berkarir di perusahaan yang memang dapat menghargai
saya. Dan itu memang terbukti. Walaupun harus melalui masa-masa sulit satu
tahun lebih, nyatanya keberhasilan mulai menyongsong.
Berhenti dari satu
perusahaan membuat saya lebih berani dan tertantang untuk berkerja di tempat
lain. Hingga sekarang saya sudah berkerja di instansi ke empat.
Saya tidak merasa sebagai
seorang Boss, tetapi saya akui kondisi saya sudah jauh berbeda dengan teman
saya tadi. Gaji saya sudah enam kali lipat.
Alhamdulillah saya sudah
bisa melanglang buana baik ke beberapa negara di luar, maupun ke sebagian besar
daerah di dalam negeri. Sesuatu fasilitas yang mungkin mustahil dapat saya
peroleh bila tetap berkerja seperti teman saya tadi.
Apakah saya berhasil?
Wallahu’alam.
Di atas langit masih ada
langit lagi.
Sekitar tahun 1997, teman
kerja dengan jabatan setingkat di bawah saya keluar dari perusahaan. Dia pindah
kerja di perusahaan lain dengan jabatan setingkat lebih tinggi. Dan tanpa bisa
diantisipasi, di tahun 2002 ada perubahan manajemen secara total di
instansi tempat saya berkerja, beliau pun kemudian melamar untuk masuk kembali.
Walau diterima sebagai tenaga kerja baru, tetapi dia langsung memegang jabatan
penting dua tingkat di atas saya. Sampai sekarang.
Dalam beberapa kesempatan
sering saya bertemu dengannya. Berbicara langsung, berdiskusi, atau rapat dalam
satu meja besar. Walau tidak secara eksplisit seperti diutarakan teman saya
dalam telepon tadi, tetapi dalam percakapan langsung, dengan teman saya yang
satu ini, saya bisa merasakan dan sering berkata dalam hati; ” Kita sekarang
lain ya. Kamu kan sudah Boss!”
Setiap orang memiliki
waktu suksesnya masing-masing.
Setiap orang akan
mencapai tingkatan sukses yang berbeda-beda.
Kita bisa saja
berlomba-lomba untuk sukses, namun kita tidak akan tahu setiap usaha yang
dilakukan akan menyemai sukses atau tidak, dan juga tidak akan tahu seberapa
jauh tingkatan sukses itu akan menghampiri. Karena sukses merupakan sisi lain
dari koin kehidupan. Satu sisi koin dinamakan sukses, satunya lagi adalah
kegagalan. Kita hanya bisa berusaha. Hasilnya, yang tahu itu hanya Tuhan.
Usaha timbul karena
adanya inisiatif. Sedang insiatif digerakkan oleh adanya motivasi. Motivasi
muncul karena adanya faktor pencetus yang datang dari eksternal atau internal,
atau bisa saja gabungan dari keduanya.
Kalau ada anak yang pergi
ke sekolah, pulang, kemudian malamnya belajar sendiri terus menerus, dan dia
naik kelas dengan berprestasi cukup baik, maka keberhasilan anak tersebut
akibat adanya inisiatif yang muncul secara internal dari dalam dirinya sendiri.
Ini disebut anak yang rajin.
Kalau ada anak yang pergi
ke sekolah, pulang, kemudian malamnya tidak belajar. Maunya nonton sinetron
saja, disuruh belajar, dan baru dia mau belajar, lantas dia naik kelas dengan
berprestasi cukup baik, maka keberhasilan anak tersebut akibat adanya insiatif
eksternal dari orang tuanya. Ini disebut anak yang dipaksa rajin.
Kalau ada anak yang pergi
ke sekolah, pulang, kemudian malamnya tidak belajar. Maunya nonton sinetron
saja, disuruh belajar kadang mau kadang tidak, dan menjelang mau ujian semester
mulai rajin belajar, lantas naik kelas dengan berprestasi cukup baik, maka
keberhasilan anak tersebut akibat adanya inisiatif gabungan antara eksternal
dan internal. Ini disebut anak yang terpaksa rajin.
Dari ketiga tipe anak
tadi, kita bisa menebak bagaimana jadinya si anak pada saat sudah berkeluarga
dan berkerja nantinya. Cetakan sudah dibuat, kuenya akan terbentuk seperti
cetakan itulah nantinya.
Apakah cetakan kue
tersebut bisa diubah? Dan, kapan?
Untuk berhasil dan
berprestasi, maka ”kita harus menciptakan hiu-hiu kecil
dalam hidup kita,” ini
menurut motivator Jamil Azzaini.
Kalimat bertanda kutip di
atas disimulasikan beliau terhadap kelompok kecil anak-anak yang rutin
mengikuti kelas pelatihan berenang. Prestasi waktu berenang mereka untuk jarak
tertentu, tidak banyak berubah. Hingga pada satu sesi waktu pelatihan berikutnya,
pada saat anak-anak akan mulai latihan sang pelatih mengingatkan; ”kalian harus
berenang lebih cepat, karena di dalam kolam ada ikan hiunya.” Hingga sewaktu
pluit ditiup, anak-anak tadi berenang dengan waktu lebih cepat dari prestasi
mereka biasanya karena takut digigit ikan hiu kecil.
Jadi janganlah heran bila
kita dikejar anjing, maka kita bisa lari lebih cepat dari pelari olimpiade.
Atau, kita bisa melompampati pagar setinggi dua meter.
Ikan hiu kecil, dan
anjing tadi tidak lebih sama dengan namanya ancaman. Sedang ancaman itu sendiri
personifikasi dari yang disebut tantangan.
Ancaman menimbulkan
keberanian. Keberanianlah yang membuat kemampuan bawah
sadar kita bangkit dan
muncul tiba-tiba.
Keberanianlah yang
membuat seekor kecoak, cecak, tikus, dan kucing, yang jatuh ke dalam kolam,
ternyata bisa berenang secara otodidak.
Keberanianlah yang bisa
membuat tidak hanya seorang anak rajin, tetapi juga seorang anak yang dipaksa
rajin, atau seorang anak terpaksa rajin akan lebih berprestasi di sekolah,
HANYA apabila ada tantangan yang datang. Bisa berbentuk ancaman atau apresiasi
berupa hadiah.
Ternyata setiap orang
diciptakan sama. Kita boleh saja sudah memiliki cetakan kue masing-masing.
Tetapi kita sendiri juga bisa bebas memilih untuk mengubah atau tidak cetakan
kue tersebut sesuai dari tantangan-tantangan yang muncul dalam perjalanan hidup
kita.
Sayang sekali, teman saya
yang menelpon tadi tidak ingin mengubah cetakannya.
Beruntung sekali teman
saya yang satunya lagi mengubah cetakan kuenya pada saat yang tepat. Pada saat
saya tidak menyadarinya.
Bagaimana dengan anda?
Selesai membaca tulisan
ini, siap-siaplah menyongsong setiap tantangan dengan keberanian untuk mencapai
suatu kesuksesan.
Dokumen: Sinang Bulawan 2008
Dokumen: Sinang Bulawan 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar