Oleh: Sinang Bulawan
Ada yang indah dalam hidup ini bila dalam mengambil keputusan kita menetapi sesuatu yang baik, mengakibatkan rangkaian peristiwa pemicu akan timbulnya keputusan-keputusan yang baik pula dari pelaku-pelaku kehidupan lain yang ada di sekitar kita.
Rangkaian keputusan dalam kehidupan ini selalu berproses setiap hari, siang dan malam.Kita sadari atau tidak.Sengaja atau tidak.Kita lakukan secara sadar ataupun tidak. Begitulah adanya suatu keputusan pada akhirnya akan menciptakan pro dan kontra. Di rumah tangga, di masyarakat, di negara, dan di dunia.
Coba renungkan, hari ini berapa banyak keputusan yang kita buat?Dan, bagaimana reaksi keputusan kita tersebut menimbulkan efek domino pada kehidupan orang di sekitar kita?Menciptakain suatu rangkaian keputusan-keputusan dalam kehidupan kita dan juga kehidupan di sekitar kita.
Tidak usah jauh-jauh.Satu keputusan pagi hari saat kita bangun tidur. Ketika jam weker berbunyi jam 04.30 pagi, apa yang anda lakukan?
Bila anda termasuk orang yang disiplin maka, anda "memutuskan" akan bangun. "memutuskan" untuk membangunkan isteri atau suami. Sewaktu isteri anda "memutuskan" untuk merapikan tempat tidur, anda kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, "memutuskan" untuk wudhu, "memutuskan" untuk berpakaian.
Sewaktu anda di kamar mandi, isteri anda "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi, dan "memutuskan" untuk sholat.
Bila suami yang sangat fanatik, setelah mandi, berwudhu, dia akan menunggu isteri dan anak-anaknya untuk sholat berjama'ah. Selesai, isteri "memutuskan" untuk menyiapkan sarapan, anda kemudian "memutuskan" untuk memanaskan mobil.Anak-anak kemudian "memutuskan" untuk jalan menuju ke ruang makan, bersamaan dengan anda yang juga "memutuskan" untuk sarapan.Sarapan bersama, selesai.Kemudian anda dan anak-anak "memutuskan" untuk naik mobil, berangkat bersama-sama. Jam 05.30, anda "memutuskan" meninggalkan rumah dengan pelukan erat dan lambaian tangan sang isteri, kemudian "memutuskan" untuk mengantar anak-anak ke sekolah dahulu, baru anda memutuskan untuk menuju ke kantor.
Coba hitung, dalam waktu satu jam saja, berapa banyak keputusan yang telah anda buat?, dan berapa banyak keputusan anda yang mengakibatkan adanya rangkaian keputusan pada orang-orang lain. Bahkan mungkin anda akan lebih banyak lagi memutuskan dalam waktu pendek tersebut. Keputusan-keputusan dalam menentukan untuk gosok gigi, memutuskan untuk pakai odol pepsodent, memutuskan untuk memakai bedak, memutuskan untuk memilih baju, warna baju, warna sepatu, warna tas, memakai minyak wangi, menghidupkan TV sambil sarapan, dan lain-lainnya.
Ternyata ada juga saatnya kita "memutuskan" sesuatu yang tidak baik menjadi baik, dan apa yang kita anggap baik itu kadangkala menjadi sesuatu yang tidak baik di kacamata orang sekitar, sehingga timbul lahirnya keputusan-keputusan berbeda yang tidak kita harapkan. Namun, akhir dari keputusan yang berbeda dari orang seberang sana tersebut justru merupakan suatu keputusan yang baik bagi diri kita.
Bedakan bagaimana bila anda bukan termasuk orang yang kurang disiplin, atau termasuk orang pemalas?Apa yang terjadi bila jam weker berbunyi jam 04.30 pagi?
Anda mungkin karena merasa kurang tidur merasa lebih baik dengan "memutuskan" untuk mematikan weker, "memutuskan" untuk menarik selimut, dan tidur lagi. Isteri anda mungkin mendengar dering weker tadi, namun dengan sigap dia bangun, lantas dia juga "memutuskan" merapikan selimut. Sewaktu anda meneruskan tidur, dia "memutuskan" ke kamar mandi, "memutuskan" cuci muka dan gosok gigi.Sewaktu anda meneruskan mimpi, dia "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi.Ketika adzan subuh berkumandang isteri anda dan anak-anak "memutuskan" untuk sholat.
Selesai sholat , isteri "memutuskan" untuk membangunkan anda. Anda yang dasarnya malas, dengan rasa kesal dan jengkel "memutuskan" bangun, kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, dan berpakaian. Isteri anda mengingatkan anda sudah sholat subuh atau belum .Anda pun "memutuskan" balik lagi ke kamar mandi dengan ogah-ogahan untuk wudhu, kemudian sholat sendirian.Mungkin karena waktu sudah menjelang pagi, anda "memutuskan" untuk tidak sarapan di rumah.Anak-anak ikut-ikutan tidak sarapan.Namun isteri anda yang penuh kasih sayang, tetap "memutuskan" membungkuskan sarapan untuk anda dan anak-anak.
Nah yang susah itu adalah bila apa yang tidak baik menurut orang banyak menjadi baik menurut kita, serta merta orang lain juga mencontoh dan menjadikannya sesuatu yang baik juga.
Bagaimana kalau sepasang suami isteri yang mendengar weker berdering jam 04.30. Anda yang masih mengantuk dan memang seringkali malas, "memutuskan" untuk mematikan dering weker, dan "memutuskan" lagi untuk tidur kembali. Isteri anda yang terbangun, demi melihat anda tidur lagi, dia pun "memutuskan" juga untuk tidur lagi juga.Bagaimana dua keputusan yang saling "mengiyakan" ini akhirnya membawa dampak?Anda bisa bayangkan, apakah keduanya sholat subuh?Mungkin jadi kesiangan.Bagaimana dengan anak-anak, siapa yang membangunkan?Bisa jadi si anak bangun sendiri, tetapi bisa jadi mereka pun bangun kesiangan.Bagaimana dengan sarapan pagi? Ya kemungkinan si suami maupun anak-anak akan jajan di kantor dan di sekolah. Bagaimana dengan di jalan?Tidak menutup kemungkinan, jalanan macet.Suami membawa kendaraan dengan emosionil tinggi. Si suami dan anak-anak mungkin jadi datang terlambat di kantor dan sekolah. Saya yakin, dampak ini akanmenimbulkan efek
domino berkelanjutan di kantor dan di sekolah, siang, sampai malam waktu mereka tidur kembali.
Inilah hidup.
Kita manusia dalam keseharian hidup menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri dan menimbulkan rangkaian kehidupan bagi orang lain. Kita juga pelaku-pelaku kehidupan yang akan mengalami masa-masa berbeda, baik berdamai dengan datangnya rasa disiplin, maupun bedalih dengan datangnya rasa malas. Baik "memutuskan" sesuatu yang baik untuk diri kita dan orang lain, maupun memutuskan sesuatu yang tidak baik untuk orang lain.
Dalam kehidupan, kita sudah berakting sedemikian rupa.Bangun diwaktu pagi dengan rajin dan beraktifitas dengan keputusan-keputusan positif.Kadang-kadang kita jadi malas bangun pagi, sehingga lupa sholat maupun kegiatan baik lainnya.
Kita sering menjadi orang baik-baik, rajin, disiplin, dan hidup teratur.Hasil yang terbentuk terhadap lingkungan kita pun menjadi baik-baik juga.
Kita sering menjadikan hal yang tidak baik menjadi baik. Keinginan yang kadang radikal ini menurut orang lain tidak baik, namun mereka tidak terpengaruh, sehingga lingkungan menjadi tetap tertata baik, mengajarkan anda untuk kembali menjadi baik.
Kita juga memang kadang-kadang berkomplot untuk menjadikan yang tidak baik, menjadi seolah-olah baik. Tapi rangkaian kehidupan selanjutnya secara alamiah akan menyadarkan kita sendiri akan kesalahan yang kita baru lakukan.
Ini hanya baru satu rangkaian kehidupan diri kita dan keluarga di rumah, hanya di waktu pagi hari.
Setiap pilihan-pilihan keputusan yang kita buat sewaktu bangun tidur itu sangat penting. Baik bagi diri kita sendiri, maupun untuk keluarga kita, dan orang-orang banyak di jalan, di sekolah, di kantor, dan dimana pun kita berada dalam hari itu terhitung dari pagi, siang, dan malam harinya kembali.
Kita menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri, kita bisa juga menciptakan suatu rangkaian kehidupan orang lain, kita juga bisa menciptakan rangkaian kehidupan di kantor kita, di kota kita, di negara kita, dan akhirnya di dunia.
Coba renungkan, bagaimana seseorang yang bangun pagi di Hotel Marriott dengan sigap, dan "memutuskan" untuk meledakkan bom di lobby hotel, kemudian dampaknya menciptakan rangkaian kehidupan yang sangat cepat baik bagi dirinya, keluarganya, temannya, orang-orang di sekitarnya, di Jakarta, di Indonesia, dan bahkan dunia?
Itulah salah satu rangkaian kehidupan yang pernah terjadi dalam sejarah.
Demikianlah.
Anda memutuskan, dan anda akan menciptakan rangkaian kehidupan.
Ada yang indah dalam hidup ini bila dalam mengambil keputusan kita menetapi sesuatu yang baik, mengakibatkan rangkaian peristiwa pemicu akan timbulnya keputusan-keputusan yang baik pula dari pelaku-pelaku kehidupan lain yang ada di sekitar kita.
Rangkaian keputusan dalam kehidupan ini selalu berproses setiap hari, siang dan malam.Kita sadari atau tidak.Sengaja atau tidak.Kita lakukan secara sadar ataupun tidak. Begitulah adanya suatu keputusan pada akhirnya akan menciptakan pro dan kontra. Di rumah tangga, di masyarakat, di negara, dan di dunia.
Coba renungkan, hari ini berapa banyak keputusan yang kita buat?Dan, bagaimana reaksi keputusan kita tersebut menimbulkan efek domino pada kehidupan orang di sekitar kita?Menciptakain suatu rangkaian keputusan-keputusan dalam kehidupan kita dan juga kehidupan di sekitar kita.
Tidak usah jauh-jauh.Satu keputusan pagi hari saat kita bangun tidur. Ketika jam weker berbunyi jam 04.30 pagi, apa yang anda lakukan?
Bila anda termasuk orang yang disiplin maka, anda "memutuskan" akan bangun. "memutuskan" untuk membangunkan isteri atau suami. Sewaktu isteri anda "memutuskan" untuk merapikan tempat tidur, anda kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, "memutuskan" untuk wudhu, "memutuskan" untuk berpakaian.
Sewaktu anda di kamar mandi, isteri anda "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi, dan "memutuskan" untuk sholat.
Bila suami yang sangat fanatik, setelah mandi, berwudhu, dia akan menunggu isteri dan anak-anaknya untuk sholat berjama'ah. Selesai, isteri "memutuskan" untuk menyiapkan sarapan, anda kemudian "memutuskan" untuk memanaskan mobil.Anak-anak kemudian "memutuskan" untuk jalan menuju ke ruang makan, bersamaan dengan anda yang juga "memutuskan" untuk sarapan.Sarapan bersama, selesai.Kemudian anda dan anak-anak "memutuskan" untuk naik mobil, berangkat bersama-sama. Jam 05.30, anda "memutuskan" meninggalkan rumah dengan pelukan erat dan lambaian tangan sang isteri, kemudian "memutuskan" untuk mengantar anak-anak ke sekolah dahulu, baru anda memutuskan untuk menuju ke kantor.
Coba hitung, dalam waktu satu jam saja, berapa banyak keputusan yang telah anda buat?, dan berapa banyak keputusan anda yang mengakibatkan adanya rangkaian keputusan pada orang-orang lain. Bahkan mungkin anda akan lebih banyak lagi memutuskan dalam waktu pendek tersebut. Keputusan-keputusan dalam menentukan untuk gosok gigi, memutuskan untuk pakai odol pepsodent, memutuskan untuk memakai bedak, memutuskan untuk memilih baju, warna baju, warna sepatu, warna tas, memakai minyak wangi, menghidupkan TV sambil sarapan, dan lain-lainnya.
Ternyata ada juga saatnya kita "memutuskan" sesuatu yang tidak baik menjadi baik, dan apa yang kita anggap baik itu kadangkala menjadi sesuatu yang tidak baik di kacamata orang sekitar, sehingga timbul lahirnya keputusan-keputusan berbeda yang tidak kita harapkan. Namun, akhir dari keputusan yang berbeda dari orang seberang sana tersebut justru merupakan suatu keputusan yang baik bagi diri kita.
Bedakan bagaimana bila anda bukan termasuk orang yang kurang disiplin, atau termasuk orang pemalas?Apa yang terjadi bila jam weker berbunyi jam 04.30 pagi?
Anda mungkin karena merasa kurang tidur merasa lebih baik dengan "memutuskan" untuk mematikan weker, "memutuskan" untuk menarik selimut, dan tidur lagi. Isteri anda mungkin mendengar dering weker tadi, namun dengan sigap dia bangun, lantas dia juga "memutuskan" merapikan selimut. Sewaktu anda meneruskan tidur, dia "memutuskan" ke kamar mandi, "memutuskan" cuci muka dan gosok gigi.Sewaktu anda meneruskan mimpi, dia "memutuskan" untuk ke dapur, memutuskan memasak air.Di kala menunggu air mendidih, isteri anda "memutuskan" untuk membangunkan anak-anak.Anak-anak "memutuskan" untuk ke kamar mandi, "memutuskan" menyiapkan buku-buku sekolah, kemudian mereka "memutuskan" untuk mandi.Ketika adzan subuh berkumandang isteri anda dan anak-anak "memutuskan" untuk sholat.
Selesai sholat , isteri "memutuskan" untuk membangunkan anda. Anda yang dasarnya malas, dengan rasa kesal dan jengkel "memutuskan" bangun, kemudian "memutuskan" untuk pergi ke kamar mandi."Memutuskan" untuk kencing, "memutuskan" untuk mandi, dan berpakaian. Isteri anda mengingatkan anda sudah sholat subuh atau belum .Anda pun "memutuskan" balik lagi ke kamar mandi dengan ogah-ogahan untuk wudhu, kemudian sholat sendirian.Mungkin karena waktu sudah menjelang pagi, anda "memutuskan" untuk tidak sarapan di rumah.Anak-anak ikut-ikutan tidak sarapan.Namun isteri anda yang penuh kasih sayang, tetap "memutuskan" membungkuskan sarapan untuk anda dan anak-anak.
Nah yang susah itu adalah bila apa yang tidak baik menurut orang banyak menjadi baik menurut kita, serta merta orang lain juga mencontoh dan menjadikannya sesuatu yang baik juga.
Bagaimana kalau sepasang suami isteri yang mendengar weker berdering jam 04.30. Anda yang masih mengantuk dan memang seringkali malas, "memutuskan" untuk mematikan dering weker, dan "memutuskan" lagi untuk tidur kembali. Isteri anda yang terbangun, demi melihat anda tidur lagi, dia pun "memutuskan" juga untuk tidur lagi juga.Bagaimana dua keputusan yang saling "mengiyakan" ini akhirnya membawa dampak?Anda bisa bayangkan, apakah keduanya sholat subuh?Mungkin jadi kesiangan.Bagaimana dengan anak-anak, siapa yang membangunkan?Bisa jadi si anak bangun sendiri, tetapi bisa jadi mereka pun bangun kesiangan.Bagaimana dengan sarapan pagi? Ya kemungkinan si suami maupun anak-anak akan jajan di kantor dan di sekolah. Bagaimana dengan di jalan?Tidak menutup kemungkinan, jalanan macet.Suami membawa kendaraan dengan emosionil tinggi. Si suami dan anak-anak mungkin jadi datang terlambat di kantor dan sekolah. Saya yakin, dampak ini akanmenimbulkan efek
domino berkelanjutan di kantor dan di sekolah, siang, sampai malam waktu mereka tidur kembali.
Inilah hidup.
Kita manusia dalam keseharian hidup menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri dan menimbulkan rangkaian kehidupan bagi orang lain. Kita juga pelaku-pelaku kehidupan yang akan mengalami masa-masa berbeda, baik berdamai dengan datangnya rasa disiplin, maupun bedalih dengan datangnya rasa malas. Baik "memutuskan" sesuatu yang baik untuk diri kita dan orang lain, maupun memutuskan sesuatu yang tidak baik untuk orang lain.
Dalam kehidupan, kita sudah berakting sedemikian rupa.Bangun diwaktu pagi dengan rajin dan beraktifitas dengan keputusan-keputusan positif.Kadang-kadang kita jadi malas bangun pagi, sehingga lupa sholat maupun kegiatan baik lainnya.
Kita sering menjadi orang baik-baik, rajin, disiplin, dan hidup teratur.Hasil yang terbentuk terhadap lingkungan kita pun menjadi baik-baik juga.
Kita sering menjadikan hal yang tidak baik menjadi baik. Keinginan yang kadang radikal ini menurut orang lain tidak baik, namun mereka tidak terpengaruh, sehingga lingkungan menjadi tetap tertata baik, mengajarkan anda untuk kembali menjadi baik.
Kita juga memang kadang-kadang berkomplot untuk menjadikan yang tidak baik, menjadi seolah-olah baik. Tapi rangkaian kehidupan selanjutnya secara alamiah akan menyadarkan kita sendiri akan kesalahan yang kita baru lakukan.
Ini hanya baru satu rangkaian kehidupan diri kita dan keluarga di rumah, hanya di waktu pagi hari.
Setiap pilihan-pilihan keputusan yang kita buat sewaktu bangun tidur itu sangat penting. Baik bagi diri kita sendiri, maupun untuk keluarga kita, dan orang-orang banyak di jalan, di sekolah, di kantor, dan dimana pun kita berada dalam hari itu terhitung dari pagi, siang, dan malam harinya kembali.
Kita menciptakan rangkaian kehidupan kita sendiri, kita bisa juga menciptakan suatu rangkaian kehidupan orang lain, kita juga bisa menciptakan rangkaian kehidupan di kantor kita, di kota kita, di negara kita, dan akhirnya di dunia.
Coba renungkan, bagaimana seseorang yang bangun pagi di Hotel Marriott dengan sigap, dan "memutuskan" untuk meledakkan bom di lobby hotel, kemudian dampaknya menciptakan rangkaian kehidupan yang sangat cepat baik bagi dirinya, keluarganya, temannya, orang-orang di sekitarnya, di Jakarta, di Indonesia, dan bahkan dunia?
Itulah salah satu rangkaian kehidupan yang pernah terjadi dalam sejarah.
Demikianlah.
Anda memutuskan, dan anda akan menciptakan rangkaian kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar