Translate

Rabu, 22 Januari 2014

Bola Itu Bundar

Oleh: Sinang Bulawan
 
 
Apakah anda termasuk penggemar bola?
Piala Dunia sudah dimulai. Apakah anda yakin bahwa kesebelasan yang anda jagokan sudah memenuhi perkiraan anda?
 
Ada yang menarik sejak laga Piala dunia Afrika Selatan 2010 dimulai tanggal 11 Juni 2010 yang lalu, yakni munculnya kesebelasan yang dulunya tidak pernah diunggulkan, menjadi jagoan baru. Selain itu, tumbangnya kesebelasan yang menurut prakiraan di atas kertas, bakal menang mudah atas suatu kesebelasan.
 
Pada putaran pertama, sebagian orang tidak percaya bila Spanyol bisa dikalahkan Swiss, dan Jerman takluk terhadap Serbia. Dan, yang sangat menghebohkan adalah bagaimana Perancis dan Italia bisa tersingkir di babak pertama.
 
Bola itu bundar.
 
Banyak sekali kata-kata ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari. 
Bola memang bentuknya bulat, namun bila sudah ditendang ke sana ke mari maka bentuknya menjadi bulat berputar sehingga menjadi bundar. Kita tidak akan tahu akan sampai mana akhirnya. Tergantung dari gerakan kaki-kaki yang menendang, dan kecepatan bergulir bola itu sendiri.
 
Suatu ujung yang tidak akan pasti, sampai wasit menghentikan pertandingan dalam waktu 2x45 menit. Pada saat itulah skor menentukan.
 
Bola itu bulat.
 
Dari dulu bola itu dibuat bulat, namun kemasannya berbeda-beda. Dari tahun ke tahun. Dari ajang Piala Dunia satu, ke Piala Dunia berikutnya.
 
Untuk Piala Dunia 2010 ini, Adidas memiliki lisensi untuk membuat bola resmi Piala Dunia 2010. Dan dengan keinginan FIFA agar gol banyak tercipta, maka Adidas pun berusaha membuat bola yang diinginkan FIFA tersebut. Panel-panelnya didesain lebih memudahkan striker mudah menembak, gelandang mudah menggiring bola, dan kiper mudah menendang serta menepis bola.
 
Begitupun desain pembentukan kulit pembalut bola itu sendiri. Kalau dulu kita tahunya bentuk bulat bola itu dibuat dengan menjahitkan satu puzzle bersegi lima dengan puzzle-puzzle seperti itu lainnya, maka sekarang bentuknya sudah lebih aneh. Sudah sangat modern, yang tidak akan bisa dibuat dengan manual seperti dulu. Sekarang kemasannya sudah tidak dijahit tetapi menggunakan sistem perekatan dengan mesin.
 
Bola itu Jabulani.
 
Piala Dunia di Afrika Selatan tidak terlepas dari penggemar bola seperti dimanapun berada. Hanya saja di Afrika Selatan ini, mereka menamakan bola itu Jabulani.
 
Keanehan nama ini juga tidak mengherankan karena setiap negara dan suku di dunia memiliki perbendaharaan kata tertentu untuk yang namanya bola. Namun, Jabulani ini memang sedikit berbeda dengan bola FIFA sebelumnya. Pada Piala Dunia sekarang, Jabulani dibuat Adidas lebih ringan dan sisi permukaan kulitnyanya lebih lebar 70 persen. Jadi jangan heran bila banyak penjaga gawang tak bisa menguasai Jabulani, ini karena memang bolanya memang lebih ringan sehingga gampang lepas bila kiper tidak kukuh menangkapnya.
 
Bola itu bundar, Bung!
 
Bila di Piala Dunia ini, ternyata Jabulani membuat beberapa kesebelasan yang tidak diperhitungkan, menjadi jagoan atau bisa bertahan seimbang dengan kesebelasan unggulan, bisa jadi apakah karena mereka sudah menguasai Jabulani? Atau, apakah karena ada penyebab lainnya?
 
Memang bola itu bentuknya bulat, dan bola itu sekarang namanya Jabulani, tetapi bola itu tetap bulat berputar waktu ditendang. Bundar. Sesuatu yang tadinya pasti, sekarang menjadi tidak pasti.
 
Boleh saja Brazil dan Argentina dikenal unggulan dalam Piala Dunia. Boleh saja Perancis sebelumnya Juara Dunia, dan Italia gudangnya pemain profesional, namun untuk pertandingan semua skor itu tidak akan ada kepastian. Banyak faktor yang menentukan, mulai dari kwalitas pemain, pelatih, lamanya latihan, pembinaan, pendidikan, sampai ke hal-hal kecil seperti ras atau suku bangsa, makanan dan gizi pemain, mental dan emosi pemain, taktik dan strategi, tempat pertandingan, penonton, dan lain-lainnya.
 
Penilaian diatas kertas bisa saja dibuat dengan analisa-analisa, tetapi hasil pertandingan berbicara lain.
 
Inggris bisa kalah dari Swiss bisa jadi karena Swiss adalah kesebelasan pendatang baru, sehingga Inggris menganggap enteng.
 
Argentina tidak belajar dari kesalahan Inggris di perdelapan final. Akibatnya Argentina kalah oleh Jerman di perempat final. Ini menyangkut strategi dan taktik.
 
Dua contoh tadi menggambarkan itulah permainan bola, dan bola itu bundar.
 
Awalnya kita bisa memperkirakan dan hasil akhirnya kita tidak akan tahu. Semua tergantung dari usaha kita. Kita bisa merencanakan, tetapi usaha kitalah yang akan menentukan.
 
Memang menarik. Dan, apakah Juara Piala Dunia nanti juga akan ditentukan oleh takdir.
 
"Saya percaya takdir, tetapi takdir yang diusahakan," kata Dahlan Iskan.

 
Beliau sekarang menjabat sebagai Direktur Utama PLN. Dulunya, beliau adalah Pendiri kerajaan bisnis Jawa Pos.



Sumber: Dokumen Sinang Bulawan, 5 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar