Translate

Sabtu, 11 Januari 2014

Si Ciput

Oleh: Sinang Bulawan

Sudah seminggu ini si Ciput, kucing kesayangan kami di rumah menghilang. Saya ingat seminggu yang lewat saya berpergian dinas ke luar kota. Seperti biasa kucing campuran Persia tersebut mengiringi langkah kaki saya ke pintu luar sambil mengibaskan ekornya yang panjang dan tebal. Itulah kebiasaannya, dengan siapa saja di rumah dia lengket dan selalu mendampingi. Kemana saja kaki saya di rumah melangkah, dia selalu ikut. Kalau saya berhenti, dan duduk, kemudian dia akan melompat dan ikut duduk di pangkuan. Kalau saya jalan ke atas menuju meja komputer, dia akan mengikuti. Mulai dari lari naik tangga mengiringi langkah saya, kemudian ikut duduk di pangkuan ketika saya sudah mulai mengetik.

Tidak dengan saya saja, dengan siapapun di rumah sama saja. Semuanya seperti itu.

Namun kebersamaan itu sekarang telah sirna. Setelah saya pulang dinas si Ciput sudah tidak ada lagi. Istri sayapun sempat menitikkan air mata. Hanya karena mengingat akan seekor kucing itu. Sesosok hewan kecil berbulu putih dengan totol-tol coklat yang telah dipelihara satu tahun lebih, mulai dari lahir. Dengan penuh kasih sayang isteri dan anak-anak saya memberi makan setiap hari. Kalau sakit dan tidak mau makan, mereka beramai-ramai membawa ke dokter hewan. Memang suatu keakraban tersendiri dan tak lazim seperti kucing-kucing lainnya yang pernah dipelihara di rumah. Semua orang suka dan senang dengan kucing ini.

Dulu, kami hanya mempunyai seekor kucing kampung jantan berwarna putih berbintik-bintik hitam. Tidak jelas asal-usulnya tetapi kucing ini sering mampir di rumah. Anak saya yang perempuan mempunyai perhatian khusus, dan kerap memberi makan. Cara-cara seperti ini ternyata tidak membuat si kucing betah berlama-lama di rumah. Sepertinya dia tahu dan hanya akan datang bila waktu makan tiba. Setelah itu ngelonyor pergi. Ada kira-kira hampir dua tahun kondisi itu tidak berubah, hingga setahun yang lewat kakak saya memberi satu kucing betina blasteran berwarna coklat kekuning-kunigan. Dari sinilah babak baru kehidupan kucing di rumah saya berubah menjadi semarak. Anak-anak dan termasuk saya dan isteri menyukai kucing pemberian ini. Penampilannya sangat beda. Seperti manusia. Selain penampilannya sangat jauh berbeda dengan kucing kampung, juga pembawaan sifatnya yang sangat mudah mengerti dengan kehendak dan perintah tuannya. Lebih-lebih lagi kucing ini super betah dirumah dan tidak ada sedikitkpun sifat buruk untuk mencuri di meja makan walaupun sedang ada ikan tersaji di piring terbuka.

Dalam perjalanan waktu kucing pejantan menjadi betah di rumah. Mungkin bisa jadi karena kehadiran lawan jenisnya ini. Mereka rukun, saling menyangi. Ini tampak dari cara mereka yang sering tidur berpelukan, saling berciuman bila bertemu, dan saling jilat menjilat bulu bila habis makan dan dalam keadaan istirahat. Tidak lama, si betina mengandung. Hanya tiga bulan, kemudian melahirkan dua anak. Satu putih berbintik-bintik hitam, dan satunya putih berbintik-bintik coklat. Sangat lucu. Kami sekeluarga semakin perhatian dengan mereka.

Keempat kucing ini benar-benar seperti satu keluarga utuh. Si induk selalu siap kapan saja membelai, menyusui dan menjaga anak-anaknya. Hanya dalam empat bulan kedua anak kucing ini tumbuh berkembang menjadi kucing-kucing yang rupawan. Dua-duanya berbentuk fisik kucing kampung tetapi perbedaannya pada kedua ekor mereka yang sangat panjang, berbulu sangat lebat, dan berkembang mekar kalau berjalan. Senang bila melihat mereka main lari ke sana dan ke sini. Sekali-sekali juga bila bermain di halaman rumah, selalu saja induknya menjaga dengan setia. Sesuatu yang sangat aneh sering terjadi. Si induk kucing akan menggeram atau mengeong seperti mengingatkan atau melarang anak-anak mereka keluar pagar rumah. Tidak mustahil kalau anaknya bandel, si induk menerkam dan menggendong dengan menggigit leher anaknya yang sudah terlanjur lari ke luar pagar, untuk dibawa masuk lagi ke dalam rumah.

Hingga suatu saat ada tetangga jauh yang ingin meminta salah satu anak kucing kami. Isteri saya tanpa sengaja menjanjikan akan memberikan salah satu anak kucing yang berwarna putih hitam. Tetapi tidak jelas apa penyebabnya, si anak kucing malah jatuh sakit. Dua hari tidak mau makan. Anak saya ikut sedih, kalau dibiarkan kucing tersebut kemungkilan bakal mati. Istri saya berinisiatif membawa kucing tersebut untuk berobat ke dokter hewan. Tiga hari diopname, kemudian dijemput pulang. Sewaktu bertemu dengan induknya kelihatan mereka saling menjaga jarak, hingga akhirnya si induk kucing kemudian seperti mengeong marah. Mungkin jadi dia menganggap anaknya habis lari dari rumah tanpa pamit. Ada-ada saja ulah mereka, apalagi kemudian berciuman kembali dan si anak kucing walaupun sudah berumur enam bulan tetap saja masih menyusui. Si indukpun juga tampaknya tetap tidak menolak. Beda dengan kucing-kucing lain yang hanya menyusui anaknya selama waktu dua bulan.

Perjalanan hidup keluarga kucing di rumah kami mulai terganggu. Tetangga yang meminta, menagih janji. Isteri saya tidak dapat menolak. Bukan si anak yang diberikan tetapi si induknya. Tinggalah tiga kucing di rumah.

Selang tidak berapa lama, si anak kucing putih kehitaman pergi bermain ke luar rumah, dan ternyata tak pernah kembali lagi. Kami cukup sedih saat itu. Hati saya selalu berdoa, agar dia suatu saat pulang. Namun sia-sia. Ditunggu-tunggu sampai seminggu tetap tidak pulang. Saya hanya membatin, pasti ada orang yang mengambil untuk memeliharanya. Saya yakin, siapapun yang melihat  anak kucing tersebut pasti akan tertarik . Kucing yang sehat, lucu, penurut, dan blasteran.

Tinggal dua kucing di rumah. Si Ciput merasa kehilangan saudaranya. Setiap hari mengeong-ngeong memiriskan hati. Tidak lama dia juga jatuh sakit yang cukup parah hingga harus diopname hampir seminggu.

Sekarang si Ciputpun juga hilang. Tinggal seekor kucing jantan kampung, ayahnya, di rumah sendirian. Seperti awal dulu lagi. Dalam jalannya, dalam tidurnya, sangat jelas terlihat matanya yang sayu menunjukkan kesedihan yang dalam. Seakan menanyakan kemana isteri dan anak-anaknya sekarang ini. Saya hanya bisa diam karena tidak tahu bagaimana menjawabnya, apalagi dengan bahasa kucing yang tidak saya pahami.

Itulah episode singkat tentang kehidupan keluarga kucing di rumah saya. Cerita ini jelas tidak menarik hati, terutama bagi yang tidak suka dengan kucing. Saya hanya ingin menggoreskan suatu kisah perjalanan hidup si Ciput yang sangat saya sayangi. Dia memang hanya seekor kucing, tetapi kucing yang baik dan banyak meninggalkan kenangan indah buat saya dan keluarga. Dia tidak bisa menulis dan membaca. Dia juga tidak memiliki ijazah dan curriculum vitae. Karena dia hanya seekor hewan. Justru dengan tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa seekor kucingpun pantas untuk meninggalkan jejak. Bukan hanya kita saja yang bernama manusia.

Bagaimana dengan anda, pembaca?

Sudahkah anda meninggalkan jejak berupa sejarah atau kisah perjalanan hidup yang pantas untuk di kenang?

Dokumen: Sinang Bulawan April 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar