Sudah seminggu ini si Ciput,
kucing kesayangan kami di rumah menghilang. Saya ingat seminggu yang lewat saya
berpergian dinas ke luar kota. Seperti biasa kucing campuran Persia tersebut
mengiringi langkah kaki saya ke pintu luar sambil mengibaskan ekornya yang
panjang dan tebal. Itulah kebiasaannya, dengan siapa saja di rumah dia lengket
dan selalu mendampingi. Kemana saja kaki saya di rumah melangkah, dia selalu
ikut. Kalau saya berhenti, dan duduk, kemudian dia akan melompat dan ikut duduk
di pangkuan. Kalau saya jalan ke atas menuju meja komputer, dia akan mengikuti.
Mulai dari lari naik tangga mengiringi langkah saya, kemudian ikut duduk di
pangkuan ketika saya sudah mulai mengetik.
Tidak dengan saya saja, dengan
siapapun di rumah sama saja. Semuanya seperti itu.
Namun kebersamaan itu sekarang
telah sirna. Setelah saya pulang dinas si Ciput sudah tidak ada
lagi. Istri sayapun sempat menitikkan air mata. Hanya karena mengingat
akan seekor kucing itu. Sesosok hewan kecil berbulu putih dengan totol-tol
coklat yang telah dipelihara satu tahun lebih, mulai dari lahir. Dengan
penuh kasih sayang isteri dan anak-anak saya memberi makan setiap hari.
Kalau sakit dan tidak mau makan, mereka beramai-ramai membawa ke dokter hewan.
Memang suatu keakraban tersendiri dan tak lazim seperti kucing-kucing
lainnya yang pernah dipelihara di rumah. Semua orang suka dan senang
dengan kucing ini.
Dulu, kami hanya mempunyai
seekor kucing kampung jantan berwarna putih berbintik-bintik hitam. Tidak jelas
asal-usulnya tetapi kucing ini sering mampir di rumah. Anak saya yang perempuan
mempunyai perhatian khusus, dan kerap memberi makan. Cara-cara seperti ini
ternyata tidak membuat si kucing betah berlama-lama di rumah. Sepertinya dia
tahu dan hanya akan datang bila waktu makan tiba. Setelah itu ngelonyor pergi.
Ada kira-kira hampir dua tahun kondisi itu tidak berubah, hingga setahun yang
lewat kakak saya memberi satu kucing betina blasteran berwarna coklat
kekuning-kunigan. Dari sinilah babak baru kehidupan kucing di rumah saya berubah
menjadi semarak. Anak-anak dan termasuk saya dan isteri menyukai kucing
pemberian ini. Penampilannya sangat beda. Seperti manusia. Selain penampilannya
sangat jauh berbeda dengan kucing kampung, juga pembawaan sifatnya yang sangat
mudah mengerti dengan kehendak dan perintah tuannya. Lebih-lebih lagi kucing
ini super betah dirumah dan tidak ada sedikitkpun
sifat buruk untuk mencuri di meja makan walaupun sedang ada ikan tersaji
di piring terbuka.
Dalam perjalanan waktu kucing
pejantan menjadi betah di rumah. Mungkin bisa jadi karena kehadiran lawan
jenisnya ini. Mereka rukun, saling menyangi. Ini tampak dari cara mereka yang
sering tidur berpelukan, saling berciuman bila bertemu, dan saling jilat
menjilat bulu bila habis makan dan dalam keadaan istirahat. Tidak lama, si
betina mengandung. Hanya tiga bulan, kemudian melahirkan dua anak. Satu putih
berbintik-bintik hitam, dan satunya putih berbintik-bintik coklat. Sangat lucu.
Kami sekeluarga semakin perhatian dengan mereka.
Keempat kucing ini benar-benar
seperti satu keluarga utuh. Si induk selalu siap kapan saja membelai, menyusui
dan menjaga anak-anaknya. Hanya dalam empat bulan kedua anak kucing ini tumbuh
berkembang menjadi kucing-kucing yang rupawan. Dua-duanya berbentuk fisik
kucing kampung tetapi perbedaannya pada kedua ekor mereka yang sangat panjang,
berbulu sangat lebat, dan berkembang mekar kalau berjalan. Senang bila melihat
mereka main lari ke sana dan ke sini. Sekali-sekali juga bila bermain di
halaman rumah, selalu saja induknya menjaga dengan setia. Sesuatu yang sangat
aneh sering terjadi. Si induk kucing akan menggeram atau mengeong seperti
mengingatkan atau melarang anak-anak mereka keluar pagar rumah. Tidak mustahil
kalau anaknya bandel, si induk menerkam dan menggendong dengan menggigit leher
anaknya yang sudah terlanjur lari ke luar pagar, untuk dibawa masuk lagi ke
dalam rumah.
Hingga suatu saat ada tetangga
jauh yang ingin meminta salah satu anak kucing kami. Isteri saya tanpa sengaja
menjanjikan akan memberikan salah satu anak kucing yang berwarna putih hitam.
Tetapi tidak jelas apa penyebabnya, si anak kucing malah jatuh sakit. Dua hari
tidak mau makan. Anak saya ikut sedih, kalau dibiarkan kucing tersebut
kemungkilan bakal mati. Istri saya berinisiatif membawa kucing tersebut untuk
berobat ke dokter hewan. Tiga hari diopname, kemudian dijemput pulang. Sewaktu
bertemu dengan induknya kelihatan mereka saling menjaga jarak, hingga akhirnya
si induk kucing kemudian seperti mengeong marah. Mungkin jadi dia menganggap
anaknya habis lari dari rumah tanpa pamit. Ada-ada saja ulah mereka, apalagi
kemudian berciuman kembali dan si anak kucing walaupun sudah berumur enam bulan
tetap saja masih menyusui. Si indukpun juga tampaknya tetap tidak menolak. Beda
dengan kucing-kucing lain yang hanya menyusui anaknya selama waktu dua bulan.
Perjalanan hidup keluarga
kucing di rumah kami mulai terganggu. Tetangga yang meminta, menagih janji.
Isteri saya tidak dapat menolak. Bukan si anak yang diberikan tetapi si
induknya. Tinggalah tiga kucing di rumah.
Selang tidak berapa lama, si
anak kucing putih kehitaman pergi bermain ke luar rumah, dan ternyata tak
pernah kembali lagi. Kami cukup sedih saat itu. Hati saya selalu berdoa, agar
dia suatu saat pulang. Namun sia-sia. Ditunggu-tunggu sampai seminggu tetap
tidak pulang. Saya hanya membatin, pasti ada orang yang mengambil untuk
memeliharanya. Saya yakin, siapapun yang melihat anak kucing tersebut pasti akan tertarik . Kucing yang sehat,
lucu, penurut, dan blasteran.
Tinggal dua kucing di rumah. Si
Ciput merasa kehilangan saudaranya. Setiap hari mengeong-ngeong memiriskan
hati. Tidak lama dia juga jatuh sakit yang cukup parah hingga harus diopname
hampir seminggu.
Sekarang si Ciputpun juga
hilang. Tinggal seekor kucing jantan kampung, ayahnya, di rumah sendirian.
Seperti awal dulu lagi. Dalam jalannya, dalam tidurnya, sangat jelas terlihat
matanya yang sayu menunjukkan kesedihan yang dalam. Seakan menanyakan kemana
isteri dan anak-anaknya sekarang ini. Saya hanya bisa diam karena tidak tahu
bagaimana menjawabnya, apalagi dengan bahasa kucing yang tidak saya pahami.
Itulah episode singkat tentang
kehidupan keluarga kucing di rumah saya. Cerita ini jelas tidak menarik hati,
terutama bagi yang tidak suka dengan kucing. Saya hanya ingin menggoreskan suatu
kisah perjalanan hidup si Ciput yang sangat saya sayangi. Dia memang hanya
seekor kucing, tetapi kucing yang baik dan banyak meninggalkan kenangan indah
buat saya dan keluarga. Dia tidak bisa menulis dan membaca. Dia juga tidak
memiliki ijazah dan curriculum vitae. Karena dia hanya seekor hewan. Justru
dengan tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa seekor kucingpun pantas untuk
meninggalkan jejak. Bukan hanya kita saja yang bernama manusia.
Bagaimana dengan anda, pembaca?
Sudahkah anda meninggalkan
jejak berupa sejarah atau kisah perjalanan hidup yang pantas untuk di kenang?
Dokumen: Sinang Bulawan April 2008
Dokumen: Sinang Bulawan April 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar